Alasan TNI Gelar Latihan Skala Besar di Babel dan Morowali

Jakarta, IDM – TNI menggelar latihan berskala besar di dua wilayah, yakni di Bangka, Bangka Belitung dan Morowali, Sulawesi Tengah, pada Rabu (19/11).
Tidak kurang 41.000 prajurit dari tiga matra, termasuk pasukan khusus, dilibatkan dalam latihan tersebut, lengkap dengan unsur alat utama sistem persenjataan (alutsista).
Operasi seperti penindakan kapal asing dan force down atau penurunan pesawat asing digelar dalam latihan.
Baca Juga: Wamenhan Sebut Penguasaan Teknologi Pertahanan adalah Kunci Hadapi Tantangan Ancaman Modern
“Latihan TNI terintegrasi ini turut memuat operasi militer selain perang (OMSP), yang menguatkan legitimasi dan peran TNI di tengah masyarakat, terutama pada wilayah yang memiliki potensi konflik kepentingan seperti kawasan hutan dan sektor pertambangan,” kata Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen (Mar) Freddy Ardianzah dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (20/11).
Pemilihan Bangka Belitung sebagai lokasi latihan didasarkan atas pertimbangan strategis, geografis, dan ekonomis.
“Wilayah ini memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar dan menjadi salah satu komoditas strategis nasional yang wajib dijaga dari ancaman eksploitasi ilegal,” tulis siaran pers Puspen TNI.
Maraknya praktik penambangan tanpa izin selama ini telah merusak lingkungan, menggerus kekayaan negara, dan berpotensi menimbulkan instabilitas sosial.
“Dalam konteks tersebut, kehadiran TNI menjadi sangat krusial untuk melindungi objek vital nasional, serta membantu pemerintah mengamankan aset bangsa dari berbagai bentuk penyalahgunaan,” kata Freddy.
Baca Juga: Kapal OPV Ketiga Mulai Dibangun di Batam, Kemhan–TNI AL Kompak Dorong Galangan Dalam Negeri
Latihan di Babel juga sebagai implementasi perintah Presiden RI Prabowo Subianto untuk mengamankan aset nasional. Sebelumnya, Presiden mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 1.000 titik tambang ilegal yang beroperasi di wilayah Bangka Belitung.
Kemudian, latihan di Morowali juga didasarkan pada penguatan infrastruktur dan kelembagaan di setiap titik strategis, seperti Bandara Morowali.
Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas) Marsdya TNI Andyawan Martono Putra menjelaskan bahwa penguatan infrastruktur dan kelembagaan seperti di Bandara Morowali ini menjadi bagian penting dalam menjaga kedaulatan udara nasional.
“Tempat ini adalah mungkin salah satu contoh yang di mana nantinya akan dilengkapi lembaga tersebut sehingga akan sesuai dengan standar dan aturan yang berlaku di negara kita,” kata Andyawan.
Prabowo juga menekankan pentingnya pengamanan berlapis di wilayah Morowali. Presiden menginstruksikan TNI untuk memperketat pemantauan dan melakukan langkah pemblokiran di kawasan-kawasan tambang tertentu, guna memastikan seluruh aktivitas berlangsung secara transparan dan terawasi.
Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin juga mengatakan ada bandara di Morawali yang tidak memiliki perangkat negara sama sekali.
"Ini anomali, bandara tapi tidak memiliki perangkat negara dalam bandara, ada celah yang membuat rawan kedaulatan ekonomi," kata Menhan Sjafrie. (nma)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































