Alasan TNI AL Libatkan Kadet dari Negara Berkonflik Ikut Pelayaran KRI Bima Suci

Jakarta, IDM – TNI AL sukses melakukan diplomasi ke puluhan negara angkatan laut sahabat untuk mengirimkan para kadetnya dalam pelayaran Asean Plus Cadet Sail 2025.
Sebanyak 38 kadet dari 21 negara akan ikut berlayar bersama 97 taruna Akademi Angkatan Laut (AAL); dua taruna Akademi Militer (Akmil); dan dua taruna AAU menggunakan kapal layar latih tiang tinggi, KRI Bima Suci dengan tujuan Malaysia.
Adapun ke-21 negara termasuk Indonesia, terdiri dari Australia; Brunei Darussalam; Cina; Filipina; India; Italia; Inggris; Jerman; Jepang; Kamboja; Korea Selatan; Laos; Malaysia; Pakistan; Rusia; Singapura; Thailand; Timor Leste; Turki; dan Vietnam. Menariknya, TNI AL dapat menyatukan sejumlah kadet dari negara "berkonflik" untuk saling berkolaborasi selama pelayaran.
Baca Juga: TNI AD Akan Bangun Lapangan Udara dan Skadron di Konawe Utara
Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (Asops KSAL) Laksamana Muda Yayan Sofiyan, mengungkapkan TNI AL bertujuan memperkenalkan kolaborasi global dan persahabatan angkatan laut sejak dini kepada para kadet melalui Asean Plus Cadet Sail.
"Dengan kolaborasi global sejak dini, mindset mereka akan ditanamkan arti persahabatan sehingga berbagai macam konflik diharapkan bukan dengan penetrasi konflik, tetapi dengan pendekatan-pendekatan kerja sama," ungkap Yayan saat pembekalan kepada para peserta Asean Plus Cadet Sail 2025, Jakarta, Selasa (5/8).
Yayan mengatakan, sejumlah negara dengan kekuatan besar tersebut bersedia terlibat dalam Asean Plus Cadet Sail 2025 dalam rangka pendekatan diplomasi. Menurutnya, pembangunan kekuatan yang dimiliki masing-masing negara, tidak selalu diarahkan untuk konflik atau perang.
"Mereka (kadet) akan saling diskusi. Pembangunan kekuatan di masing-masing negara diharapkan bukan untuk perang, tetapi menghindari perang. Membangun kekuatan tujuannya bukan hanya diarahkan untuk konflik, tetapi si vis pacem para bellum kalau kita ingin hidup damai, kita harus sudah siap berperang," kata Yayan.
"Sejak mulai kadet, bagaimana formulasinya mereka punya mindset penetrasi-penetrasi konflik itu diubah menjadi penetrasi kerja sama yang saling menguntungkan ke semua pihak. Itu yang kita harapkan. Asean Plus Cadet Sail ini menarik perhatian banyak pihak," lanjutnya.
Baca Juga: Kemenko Polkam Pastikan TNI-Polri Siap Amankan Proses PSU di Papua
Nantinya, selama pelayaran menuju Malaysia para kadet asing dan taruna AAL akan menjalani agenda pada fase pangkalan (harbour phase) seperti kunjungan kehormatan kepada pejabat militer di daerah yang disinggahi oleh KRI Bima Suci hingga melakukan diplomasi budaya.
"Selama pelayaran, mereka akan dikenalkan dengan produk-produk unggulan Indonesia, baik UMKM, produk-produk dari industri pertahanan kita (PT PAL, PT LEN, PT Dirgantara Indonesia). Ini kesempatan untuk menanamkan pemahaman sejak dini kepada para kadet internasional tentang Indonesia," jelas Yayan.
Sementara pada fase laut (sea phase) para kadet asing bersama taruna AAL akan mempelajari sejumlah pengetahuan bahari, seperti navigasi bintang, navigasi lingkaran bumi, hingga tradisi "mandi" yang menjadi sertifikasi pelaut Indonesia saat kapal melintasi perairan di titik nol khatulistiwa. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































