Alasan TNI AD Merekrut Prajurit Capai 24.000 Orang di Tahun 2025

Jakarta, IDM – Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana mengungkapkan alasan TNI AD merekrut prajurit TNI AD tahun 2025 yang mencapai 24.000 orang.
Menurutnya angka tersebut bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba atau tanpa dasar perencanaan yang jelas.
"Perlu saya jelaskan bahwa animo pemuda Indonesia untuk menjadi prajurit TNI AD justru terus meningkat secara konsisten dari tahun ke tahun. Hal ini tercermin dari data pendaftaran Calon Tamtama TNI AD tahun 2025 yang mencapai 107.365 orang, dengan jumlah calon tervalidasi sebanyak 38.835 orang," kata Wahyu dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (4/6).
Baca Juga: Pengamat: Percepatan Pendidikan Sesko Angkatan Perlu Diimbangi Pembinaan Lanjutan
Lebih lanjut kata Wahyu, animo ini bukan hanya dalam jumlah, kualitas dan semangat nasionalisme generasi muda juga terus meningkat. Hal ini dibuktikan dari realisasi rekrutmen yang secara konsisten melampaui target alokasi formasi.
"Sepanjang lima tahun terakhir, capaian penerimaan TNI AD selalu di atas 100 persen, bahkan mencapai 114,4% pada tahun 2023," kata Wahyu.
Sesuai Doktrin Pertahanan Negara
Wahyu mengatakan terkait kebutuhan personel, rekrutmen ini juga sejalan dengan arah kebijakan pertahanan negara yang termuat dalam Doktrin Pertahanan Negara Tahun 2023, yaitu membangun sistem pertahanan yang mandiri, kuat, dan berbasis kewilayahan.
Baca Juga: Pendaftaran Calon Tamtama TNI AD Tahun 2025 Capai 107.365 Orang
"Dalam konteks ini, TNI AD tengah menyusun struktur organisasi yang lebih adaptif dan responsif terhadap potensi ancaman di tiap wilayah Indonesia," jelas Wahyu.
Sebagai implementasi konkret, lanjut Wahyu bahwa TNI AD berencana untuk membentuk Batalyon Teritorial Pembangunan yang tersebar di seluruh Indonesia untuk mendukung stabilitas dan pembangunan di 514 Kabupaten/Kota.
"Setiap batalyon nantinya akan berdiri di lahan seluas 30 hektare, dan akan memiliki kompi-kompi yang secara langsung menjawab kebutuhan masyarakat," kata Wahyu.
Baca Juga: Panglima TNI Tinjau Latgabma Griffin Cakti 2025 di Batam
Dengan pendekatan ini, prajurit TNI AD tidak hanya dituntut siap tempur, tetapi juga menjadi kekuatan pembangunan yang hadir dan bermanfaat langsung di tengah masyarakat.
"Jadi sudah tergambar dari rencana pengembangan organisasi TNI AD tersebut tentunya akan membutuhkan banyak personel prajurit baru melalui rekrutmen prajurit khususnya Tamtama. Nah jika ada Babinsa yang kesulitan mencari calon peserta rekrutmen, kami yakin itu lebih disebabkan faktor teknis lapangan dan bisa segera disiasati dengan pendekatan sosial yang lebih intensif, karena pada dasarnya animo dan semangat anak muda Indonesia untuk mengabdi lewat TNI AD sangat tinggi dan terbukti secara data numerik," tutup Wahyu.
Berikut daftar rencana kompi yang ada di Batalyon Teritorial Pembangunan:
1. Kompi Pertanian, untuk mendukung ketahanan pangan dan swasembada nasional;
2. Kompi Peternakan, yang memperkuat penyediaan protein hewani;
3. Kompi Medis, sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat dan penanganan bencana;
4. Kompi Zeni, yang akan fokus pada pembangunan sarana prasarana terutama di daerah tertinggal dan rawan bencana. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































