Aksi Prajurit Indo RDB Beri Pelatihan Terhadap Personel Militer Republik Demokratik Kongo

Bunia, IDM - Sebanyak 5 orang trainer dari Indo Rapid Deployable Battalion (RDB) Konga XXXIX-E dipimpin Lettu Inf Abel melaksanakan pelatihan terhadap personel Militer Republik Demokratik Kongo (FARDC) di training ground FARDC Rawampara, Jumat, (5/5).
Dilansir keterangan Indo RDB Konga XXXIX-E, Sabtu, (6/5) latihan ini diberikan dengan materi move formation yang dilaksanakan secara praktek/drill teknis.

"Pada saat kegiatan latihan materi move formation, personel FARDC sangat antusias dengan materi latihan yang diberikan oleh trainer dari Indo RDB. Hal tersebut dapat dilihat dari personel FARDC yang bersemangat dan senang, serta memiliki rasa ingin tahu yang tinggi saat diberikan materi," kata Abel.
Baca Juga: Tim Menembak Kopasgat Dominasi Perolehan Medali di Kasau Cup 2023
Di akhir kegiatan personel FARDC mengucapkan terimakasih kepada trainer dari Indo RDB yg telah memberikan pelatihan, sehingga personel FARDC dapat meningkatkan skill dan taktik di bidang militer. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































