85 Prajurit Satgas Yonmek XXIII-Q/UNIFIL Naik Pangkat di Lebanon

Jakarta, IDM - Sebanyak 85 Prajurit Satgas Yonmek XXIII-Q/UNIFIL mendapatkan kenaikan pangkat, terdiri dari 7 prajurit golongan perwira, 6 prajurit golongan Bintara dan 72 prajurit golongan tamtama.
Komandan Kontingen Garuda UNIFIL sekaligus merangkap sebagai Komandan Satgas Yonmek XXIII-Q/UNIFIL Kolonel Inf Syafruddin memimpin langsung acara laporan Korps Kenaikan pangkat bertempat di lapangan Soekarno, UNP 7-1, Adchit Al Qusayr, lebanon selatan beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Pembebasan Pilot Susi Air, Panglima TNI Tegaskan Tetap Persuasif: Cara Militer Bikin Dampak Besar
Dalam sambutannya ia menyampaikan, selamat kepada Prajurit Satgas Yonmek XXIII-Q/UNIFIL yang telah mendapatkan kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi dari pangkat sebelumnya.
"Kenaikan pangkat merupakan wujud kepercayaan dan penghargaan dari TNI yang diberikan atas dedikasi dan pengabdian serta kinerja yang baik seorang prajurit," katanya.
Baca Juga: Panglima TNI Ungkap Rencana Jika Jadi Pensiun: Saya Kembali Bertani
Turut hadir dalam acara laporan korps kenaikan pangkat, para Kepala seksi, para Komandan Kompi, seluruh Perwira serta Prajurit Satuan tugas Batalyon Mekanis TNI KONGA XXIII-Q/UNIFIL. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































