45 Personel TNI AL Lulus Pendidikan Intelijen Maritim

Jakarta, IDM - Pusat Pendidikan Intelijen Maritim (Pusdik Intelmar) Kodikopsla Kodiklatal meluluskan 45 pengawak intelijen TNI AL di Surabaya, Kamis (19/1).
Kelulusan tersebut ditandai dalam upacara penutupan pendidikan perwira dan pendidikan bintara intelijen TNI AL 2022 yang dipimpin oleh Komandan Pusdik Intelmar Kolonel Laut (T) Harlius Bachtiar.
Adapun, 45 prajurit TNI AL yang berhasil lulus pendidikan terdiri dari 21 orang perwira TNI AL, dan 25 orang bintara TNI AL dari berbagai kesatuan, pascamengikuti pendidikan selama 3,5 bulan.

Dalam arahannya, Harlius menyampaikan beberapa hal untuk menjadi pedoman para mantan siswa dalam melaksanakan tugas sebagai personel pengawak organisasi intelijen.
"Keberhasilan dalam setiap penugasan satuan operasi yang digelar oleh TNI AL sangat bergantung pada informasi intelijen yang akurat," ucapnya dikutip dari keterangan Pen Kodiklatal, Jumat (20/1).
Baca: Tingkatkan Kapabilitas, Yonko 462 Kopasgat Gelar Refreshing Terjun Free Fall
Ia juga berpesan, kesalahan dalam menyajikan data informasi intelijen akan berakibat fatal dan dapat menyebabkan kegagalan dalam pelaksanaan gelar satuan operasi. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































