448 Ton Bantuan Pascabencana Telah Masuk ke Lanud Sultan Iskandar Muda

Jakarta, IDM - Lanud Sultan Iskandar Muda menjadi salah satu titik sentral penyaluran bantuan bagi wilayah Aceh yang terdampak bencana. Total 448,6 ton bantuan telah masuk ke posko terpadu sejak 28 November hingga 10 Desember 2025.
Hal itu diungkapkan oleh Danlanud Sultan Iskandar Muda sekaligus Dansatgasud, Kolonel Nav Sudaryanto. Dari jumlah tersebut, 334 ton sudah berhasil dikirimkan ke wilayah terdampak melalui jalur udara dan darat.
Ia menegaskan bahwa pihaknya terus bekerja maksimal untuk memastikan logistik tersalurkan tepat waktu. "Kami berharap seluruh masyarakat Aceh mendoakan agar penyaluran bansos ini berjalan lancar dan tepat sasaran," ujarnya melansir keterangan tertulis Dispenau, Jumat (12/12).
Adapun, bantuan dari berbagai kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan masyarakat terus mengalir untuk disalurkan ke 18 dari 23 kabupaten/kota yang terdampak.
Baca Juga: Dengan Jalan Kaki, TNI Evakuasi Dua Lansia Penderita Stroke di Aceh
Pada Kamis (11/12), TNI AU mengoperasikan 27 sortie penerbangan untuk menyalurkan bantuan ke daerah yang sulit dijangkau, khususnya Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































