2 Batalyon Terbang ke Kalimantan Perkuat Perbatasan RI-Malaysia

Jakarta, IDM - Dua Batalyon yaitu Batalyon Arhanud 8/Sriti dan Batalyon Arhanud 12/Satria Bhuana Prakasa dikirim ke Kalimantan untuk menjaga perbatasan RI-Malaysia.
Menurut amanat Pangdam VI/Mulawarman (Mlw) yang dibacakan Irdam VI/Mlw Brigjen TNI Fahrizal Harris saat upacara penyambutan mengatakan nantinya pasukan ini akan menjaga kedaulatan perbatasan RI-Malaysia sepanjang Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.
Baca Juga: 3 Pesawat Tempur F-35 Milik Angkatan Udara Australia Mendarat di Manado, Ada Apa?
"Dengan keberadaan Satgas (Satuan Tugas) di perbatasan, akan memberikan efek tangkal bagi pihak manapun yang berniat mengganggu keutuhan dan kedaulatan wilayah Indonesia," kata Pangdam.

Pangdam juga mengingatkan kepada Satgas Pamtas untuk maksanakan ibadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing dalam setiap pelaksanaan tugas.
Baca Juga: Hadirkan Pengajar dari USAF, TNI AU Gelar Pelatihan Analis Citra Geospasial
"Kepada prajurit agar memegang teguh Sapta Marga, Sumpah Prajurit dan 8 Wajib TNI dalam langkah pengabdian dan laksanakan tugas dengan penuh keikhlasan untuk berbuat yang terbaik bagi Negara dan Bangsa," kata Pangdam. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































