180 Calon Prajurit Satgas TNI Konga 2023-2024 Terima Pengarahan Komandan PMPP

Jakarta, IDM - Ratusan prajurit TNI AL menerima pengarahan dari Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) Laksamana Muda TNI Retiono Kunto, Surabaya, Selasa (4/7).
Sebanyak 180 prajurit TNI AL itu tengah melaksanakan seleksi Satgas TNI Kontingen Garuda Maritime Task Force (MTF) XXIII-O UNIFIL Lebanon 2023-2024.
Baca Juga: Panglima TNI Berangkatkan 2 Satgas Pamtas, Jaga Perbatasan RI-PNG
Dalam pengarahannya, Retiono menekankan kepada seluruh prajurit untuk melaksanakan seleksi dengan penuh rasa tanggung jawab, memberikan yang terbaik dalam pelaksanaan seleksi, dan bersaing secara sehat.

"Ikuti peraturan yang ada, perhatikan faktor keamanan, dan jaga kesehatan untuk mengoptimalkan hasil seleksi yang akan dicapai," kata Retiono dikutip dari keterangan Dispen Koarmada II, Rabu (5/7).
Baca Juga: Kadispenad: Penanganan Stunting adalah Investasi Masa Depan
Lebih lanjut, ia menyampaikan, setelah pelaksanaan tes kesehatan jiwa (keswa), para prajurit akan melaksanakan tes kesehatan umum (kesum), komputer, bahasa inggris, dan diakhiri tes kesegaran jasmani. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































