Yonif 1 Marinir Berlatih Senjata "Sumpit Dayak"

Sidoarjo, IDM - Batalyon Infanteri (Yonif) 1 Marinir latihan menggunakan senjata sumpit dengan bidikan sasaran dari jarak delapan meter, di depan Markas Komando Yonif 1 Marinir Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (30/8).
Sumpit adalah senjata tradisonal yang dipergunakan suku Dayak untuk berburu binatang sebelum mengenal senjata modern. Sumpit juga termasuk senjata rahasia untuk membunuh musuh secara diam-diam dan senyap serta tersembunyi.
Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) 1 Marinir Letkol (Mar) Akhmad Kharis Mukhyiddin, menyampaikan para prajurit Yonif 1 Marinir harus mampu mengenal dan menguasai senjata tradisonal seperti sumpit.
"Zaman dahulu, sumpit adalah senjata yang ditakuti penjajah Belanda, karena sifat dari kesenyapan dan kerahasiaan dalam menyelesaikan sasaran," kata Akhmad, dikutip dari keterangan Dispen Kormar, Kamis (1/9).
Latihan menggunakan sumpit oleh prajurit Yonif 1 Marinir ini juga dalam rangka menindaklanjuti perintah harian Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono tentang pembangunan sumber daya manusia TNI AL yang unggul, profesional serta tangguh dalam menghadapi segala ancaman. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































