Ungkit Sejarah Erat RI-Portugal, KSAL: Potensi Besar Kerja Sama Pertahanan

Jakarta, IDM – Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali menerima kunjungan Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Portugal, Susi Marleny Bachsin, Jakarta, Senin (19/1). Pertemuan ini membahas penguatan diplomasi dan kerja sama pertahanan maritim kedua negara.
Dalam audiensi tersebut, Ali menyoroti hubungan panjang antara Indonesia dan Portugal. Menurutnya, faktor sejarah menjadi modal penting untuk mempererat kolaborasi militer, khususnya angkatan laut.
"Hubungan bilateral Indonesia dan Portugal memiliki nilai historis yang kuat," kata Ali dikutip dari laman TNI AL, Selasa (20/1).
Baca Juga: Ibaratkan BSSN Angkatan Perang Asimetris, Menhan Sebut Kekuatan Siber tak Boleh Terpecah Belah
Mantan Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I ini menilai, kedekatan sejarah tersebut membuka peluang strategis bagi kedua negara. Ali menggarisbawahi adanya "potensi besar untuk terus dikembangkan" di sektor pertahanan laut.
Kerja sama ini dinilai makin krusial di tengah situasi dunia yang tidak menentu. "Terutama dalam menghadapi dinamika keamanan maritim global yang semakin kompleks," jelas Ali.
Lebih lanjut, Ali menegaskan komitmen institusinya untuk bersinergi dengan para diplomat Indonesia di luar negeri. TNI AL memastikan akan menyokong penuh langkah diplomasi RI di Portugal.
"TNI AL siap mendukung upaya diplomasi pertahanan untuk menciptakan stabilitas kawasan serta mempererat kerja sama internasional yang saling menguntungkan," tegasnya.
Baca Juga: Satgas Gulbencal Bersihkan 2 Sekolah Dasar dari Lumpur dan Tanah, Imbas Banjir dan Tanah Longsor
Koneksi Atlantik-Pasifik: Dua Poros Maritim Dunia
Secara historis, bangsa Portugis adalah penjelajah Eropa pertama yang menjejakkan kaki di Nusantara pada awal abad ke-16 (1511) dalam misi pencarian rempah-rempah hingga ke Maluku. Jejak interaksi ratusan tahun ini meninggalkan warisan budaya dan bahasa yang masih lekat hingga kini.
Secara diplomatik, hubungan kedua negara sempat mengalami pasang surut yang tajam. Hubungan diplomatik pernah putus total pada 1964 dan memanas kembali pada 1975 akibat isu Timor Timur (kini Timor Leste).
Baca Juga: TNI AL Perkuat Dasar Hukum Penyidikan Perompak, Aturan Warisan Belanda Dikaji
Namun, lembaran baru dimulai ketika hubungan diplomatik resmi dipulihkan kembali (restorasi) pada 28 Desember 1999 di New York, Amerika Serikat, pascajajak pendapat Timor Timur. Sejak saat itu, hubungan Jakarta-Lisbon terus membaik tanpa beban masa lalu.
Kini, kedua negara menemukan titik temu strategis di sektor kelautan. Portugal, yang memiliki wilayah laut luas di Atlantik (Kepulauan Azores dan Madeira), dan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di Indo-Pasifik, sama-sama menaruh perhatian besar pada isu Blue Economy dan tata kelola laut.
Kedekatan ini makin terlihat saat Presiden ke-7 RI Joko Widodo menghadiri langsung UN Ocean Conference di Lisbon pada Juni 2022 lalu, yang menegaskan posisi kedua negara sebagai mitra kunci dalam menjaga ekosistem laut global. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































