Uji Nyali Sang “Venom” Terbangkan KF-21 Boramae

Jakarta, IDM – Sekitar 60 menit lamanya Kolonel Pnb. Ferrel Rigonald mengangkasa di wilayah udara Korea Selatan. Ia melakukan serangkaian manuver pengujian di ketinggian 20.000 kaki.
Duduk di kursi depan, Ferrel didampingi pilot uji dari Korean Aerospace Industries (KAI) Koh Hwi Seok yang berada di kursi belakang. Pesawat lepas landas dari Pangkalan Udara Sacheon, Jumat (27/6).
Pada momen itu nyali Ferrel benar-benar diuji. Menerbangkan prototipe jet tempur seperti KF-21 Boramae tentu berbeda dengan pesawat yang sudah jadi. Seperti yang diungkapkan Esther Gayatri Saleh, seorang pilot uji yang telah memiliki lebih dari 7000 jam terbang.
Baca Juga: TNI Musnahkan 311 Hektare Sawit Ilegal
“Anda menerbangkan pesawat yang Anda tidak tahu perilakunya seperti apa. Walau di atas kertas sudah terdefinisi, tapi di dunia nyata, Anda harus menerbangkannya, bukan hanya teori, harus diuji, diverifikasi bahwa rancang bangunnya bisa terbang juga. Jadi sesulit apa? Risikonya sebesar apa? Risikonya sangat tinggi. Prototipe pesawat itu risikonya tinggi,” ungkap Esther kepada BBC Indonesia.
Ferrel yang memiliki tanda panggil (callsign) “Venom” memang layak mendapat kepercayaan untuk menerbangkan KF-21 Boramae. Selain cakap dalam bidangnya, ia juga sudah tahu seluk beluk jet tempur tersebut.
Tahun 2023, pilot TNI AU ini pernah mengikuti uji coba terbang pesawat yang sama. Hanya saja, waktu itu ia duduk di bangku belakang, Park Ji Won penerbang uji dari KAI duduk di kursi depan.
Ferrel Rigonald lahir pada 10 Juni 1978 di Makassar, Sulawesi Selatan. Ia lulus dari Akademi Angkatan Udara (AAU) tahun 2002. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Penerbang (Sekbang) pada 2004.
Tidak puas sampai di situ, Ferrel kembali mempertinggi ilmunya di Sekolah Instruktur Penerbang (SIP) TNI AU tahun 2011, dan Sekolah Komando Kesatuan TNI Angkatan Udara (Sekkau) di tahun berikutnya.
Baca Juga: TNI AD Gelar Sidang Disiplin Militer terhadap Prajurit yang Terlibat Judol
Di awal karirnya sebagai pilot TNI AU, Ferrel menjadi penerbang pesawat tempur F-5E/F Tiger II Skadron Udara 14 Lanud Iswahjudi Madiun. Ia kemudian diangkat sebagai Komandan Skadron Lanud Sugiri Sukani (2022).
Saat ini Ferrel juga tercatat sebagai dosen muda di Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Udara (Seskoau).
Jet tempur KF-21 Boramae merupakan proyek kerja sama Indonesia dan Korea Selatan yang sudah dirintis sejak 2010. Saat itu Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak menyepakati kerja sama strategis bidang pertahanan. Salah satu poin pentingnya adalah pengembangan bersama pesawat tempur masa depan. (Dari berbagai sumber/ykb/ra)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































