Ton Taikam: Unit Intelijen Tempur Andalan

Jakarta, IDM – Sebagai satuan yang punya peran penting menjaga keamanan ibu kota, Brigif PIK 1 mempunyai unit intelijen tempur andalan, yakni Peleton Pengintai Keamanan (Ton Taikam). Unit ini jarang terlihat tapi punya andil besar menjaga ibu kota.
Kepada Redaksi Indonesia Defense Magazine, Komandan Ton Taikam Brigif PIK 1, Letnan Dua (Letda) Infanteri Redy Apriansyah, menjelaskan awal berdirinya unit ini, di tahun 1990-an. Kemudian pembentukan resmi pada tahun 2004 berdasarkan buku petunjuk pembentukan (bujuk) resmi yang dikeluarkan langsung oleh Pusat Intelijen Angkatan Darat. Seiring perkembangan waktu dan petunjuk dari pimpinan, unit ini mengalami validasi organisasi.
“Ton Taikam kemudian digabungkan ke dalam Brigif PIK 1/Jaya Sakti, sempat berada di bawah Denma (Detasemen Markas), sebelum akhirnya berada di bawah Kompi Bantuan seperti sekarang. Di Kompi ada Ton Sus, peleton penjinak bahan peledak (Jihandak), dan juga ada Regu MCP,” kata Redy.
Baca Juga: Hampir Tiga Tahun, Sertu Gabriel Jaga Rimba Sanggabuana
Sebagai unit intelijen tempur, lanjut Redy, Ton Taikam harus dapat memberikan data kepada komandan atau satuan terkait dengan cuaca, medan, dan musuh. Selanjutnya unit ini harus menjadi pelopor atau berada terlebih dahulu apabila Komandan atau Panglima Kodam (Pangdam) bergerak ke suatu tempat.
Terkait sepak terjangnya, unit pengamanan ibu kota ini punya andil besar sejak terbentuknya. Tercatat, Ton Taikam terlibat dalam pengamanan VVIP untuk RI 1 (Presiden), baik sebagai motoris, pengamanan Ring 1, 2, 3, matan (unit penyelamatan), maupun contra-sniper, termasuk pernah menjadi pasukan bantuan untuk Paspampres.
“Selain itu, di kegiatan internasional seperti KTT ASEAN, kami terlibat langsung dalam pengamanan internal kepala negara dan tamu asing. Berikutnya di aksi terorisme, kami juga terlibat dalam penanganan peristiwa bom Thamrin tahun 2016 sebagai pasukan yang datang pertama kali di lokasi. Selanjutnya terlibat dalam Satgas Rajawali 2 pada masa lalu, era tahun 2010 ke bawah,” kata Redy.

(IDM/Faisal Ramadhan)
Proses Seleksi Menjadi Prajurit Ton Taikam
Redy mengatakan prajurit Ton Taikam dipilih dari barisan terbaik di seluruh jajaran Brigif PIK 1 (Batalion 201, 202, dan 203) melalui serangkaian tes meliputi kesehatan dan psikologi, kemampuan menembak (senapan dan pistol), kemampuan teknik kendaraan bermotor (TKB), renang militer dan bela diri. Selain itu, ada juga kemampuan khusus prajurit yang diseleksi. Untuk Bintara kata Redy diwajibkan memiliki spesialisasi di bidang intelijen.
“Seluruh anggota harus mahir menembak termasuk menembak di atas motor, bela diri, teknik kendaraan bermotor, serta penguasaan mountaineering seperti snapling, rappelling, dan fast trooping),” jelas Redy.
Untuk menunjang tugas, Ton Taikam Brigif PIK 1 memiliki alutsista andalan yaitu kendaraan taktis Anoa, rantis Atav, Motor 2-Tak (Special Engine) dan Kawasaki Ninja 250 CC sebagai kendaraan andalan operasional cepat di lapangan.
Rantis Anoa sendiri adalah kendaraan taktis lapis baja beroda buatan PT Pindad. Kapasitas mampu menampung 10 personel di bagian belakang dan dilengkapi senjata. Digunakan untuk angkut personel dalam operasi pertempuran jarak dekat dan pertempuran perkotaan (purkota).
“Rantis ini juga berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhir yang tahan peluru untuk menyelamatkan objek VVIP ke tempat aman saat situasi darurat terjadi,” pungkas Redy.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































