HANKAM

TNI-Universitas Pertahanan akan Sebarkan Sistem Penjernihan Air ke Lokasi Bencana

Personel TNI
Personel TNI mengangkat tabung filtrasi untuk sistem penjernihan air di Sumatra Utara. Alat ini akan nantinya disebarkan ke titik-titik lokasi bencana. (Foto: Istimewa)

Jakarta, IDM – Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) membentuk Satuan Tugas Pengembangan dan Penerapan Teknologi Penjernihan Air untuk mendukung penanganan bencana alam di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Satgas ini dipimpin Kolonel Inf Musthofa, sebagai Koordinator Komando Satgas Air, dengan ketua Diyan Parwatiningtyas, dosen Program Studi Fisika FMIPA Unhan RI. Anggota satgas terdiri dari dosen dan kadet Unhan RI lintas program studi, termasuk Rekayasa Sumber Daya Air, Fisika, dan Teknik Sipil.

Baca Juga: Kapal Fregat Merah Putih Unit Pertama Diberi Nama KRI Balaputradewa-322

Dalam keterangannya, salah satu kadet menjelaskan bahwa teknologi water treatment berbasis reverse osmosis yang dikembangkan mampu menghasilkan hingga 20.000 liter air bersih per hari untuk kebutuhan mandi dan mencuci, serta 4.000–5.000 liter air siap minum. Proses perakitan alat ini membutuhkan waktu sekitar empat hari.

“Kemudian selanjutnya untuk water treatment reverse osmosis ini akan disebarkan ke titik-titik lokasi bencana yang berada di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat,” ujar kadet tersebut saat ditemui, Kamis (18/12).

Sistem penjernihan air dirancang menggunakan tabung filtrasi berbahan Fiber Reinforced Plastic (FRP) dengan lapisan media penyaring seperti manganese ferrolite, manganese zeolit, karbon aktif, dan silika. Air hasil filtrasi kemudian diproses dengan teknologi reverse osmosis dan penyinaran ultraviolet (UV) untuk memastikan bebas dari garam terlarut, kontaminan mikro, serta bakteri dan virus berbahaya.

Baca Juga: Fokus Pasang Jembatan, Panglima TNI Tambah Personel di Sumatra

Dengan biaya produksi sekitar Rp65–70 juta per unit, teknologi ini dinilai efisien dan efektif untuk kondisi darurat bencana.

Ke depan, teknologi ini diharapkan tidak hanya digunakan dalam masa tanggap darurat, tetapi juga dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat setempat. Dengan demikian, keberadaan satgas dan teknologi penjernihan air ini diharapkan mampu meningkatkan ketahanan air bersih, menekan risiko penyakit akibat air tercemar, serta mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana. (nhn)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.