TNI Sergap Komandan Batalion OPM dan Wakilnya di Sebuah Rumah, Menyerah Tanpa Perlawanan

Jakarta, IDM – Satgas Batalion Infanteri (Yonif) 9 Marinir Komando Operasi (Koops) TNI Habema di bawah kendali Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III, berhasil menangkap Komandan Batalion Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Matius Aisasior beserta wakilnya, Yeremias Aisasior, dan satu orang anggotanya bernama Zakarias Aikingking, di Distrik Aifat Timur Jauh, Maybrat, Papua Barat Daya.
Ketiganya disergap di sebuah rumah di Kampung Franeway, Distrik Aifat Timur Jauh, Kabupaten Maybrat, Rabu (28/10).
Panglima Kogabwilhan III Letnan Jenderal TNI Lucky Avianto melalui keterangannya mengatakan, awalnya pasukan Yonif 9 Marinir sudah lama memantau pergerakan OPM di wilayah Papua Barat Daya.
Baca Juga: Dari Menembak hingga Navigasi Darat, Pangdam Cenderawasih Perkuat Kesiapan Prajurit Yonif TP 860/NSK
Pasukan kemudian mendeteksi keberadaan Matius Aisasior saat keluar dari Hutan Aisnak, Distrik Moskona, Bintuni, yang selama ini dijadikan sebagai tempat persembunyian kelompok tersebut.
Satgas pun mengikuti salah satu pimpinan OPM Papua Barat Daya tersebut hingga sampai ke sebuah rumah di Kampung Franeway, Distrik Aifat Timur Jauh, Maybrat.
Di dalam rumah tersebut, sudah ada Yeremias Aisasior dan Zakarias Aikingking yang menunggu Matius Aisasior. Personel Yonif 9 Marinir langsung menyergap ketiganya yang menyerah tanpa melakukan perlawanan.
“Matius Aisasior dan kelompoknya yang berafiliasi dengan jaringan OPM di bawah pimpinan Kopitua Heluka diidentifikasi sebagai pelaku berbagai tindak kejahatan kemanusiaan dan sejumlah aksi teror, mulai dari penyerangan pos keamanan dan pekerja proyek Jalan Trans Bintuni hingga intimidasi dan kekerasan terhadap orang asli Papua,” kata Lucky dalam keterangannya, dikutip Jumat (30/10).
Kepada seluruh pimpinan, anggota, dan simpatisan OPM, Lucky mengimbau dan mengajak kelompok separatis bersenjata tersebut untuk segera menyerah, meletakkan senjata, dan kembali bergabung dengan NKRI.
Baca Juga: KRI Keris-624 Hentakkan Meriam di Laut Bali Usai Kawal Kapal Perang Australia
“Namun, apabila OPM tidak mengindahkan upaya persuasif, TNI atas nama undang-undang dan peraturan yang berlaku, sesuai dengan rules of engagement (ROE), tidak akan segan mengambil tindakan tegas yang terukur terhadap OPM,” ujar Lucky.
Lucky memastikan Satgas TNI tidak akan ragu sedikit pun mengambil tindakan tegas ketika berhadapan dengan situasi tertentu, khususnya kondisi mendesak.
“Mengingat prinsip salus populi suprema lex esto, yakni keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi, senantiasa menjadi pedoman TNI dalam menghadapi aksi kekerasan OPM,” kata Lucky.
Hankam

Rapat DPN, Menhan Sjafrie Kumpulkan Kepala BIN, Panglima TNI, Kapolri hingga Kepala Staf Angkatan
Jakarta, IDM – Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengumpulkan Wakil Menteri Pertahanan RI, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Panglima TNI, Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) hingga tiga kepala staf angkatan di Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Senin (2/11). Mereka berkumpul dalam…
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































