HANKAM

TNI dan Polri Hadapi Kompleksitas Ancaman di Era Modern

Personel TNI-Polri
Personel TNI-Polri. (IDM/Faisal Ramadhan)

Jakarta, IDM – Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Bidang Resolusi Konflik dan Pertahanan, Abdul Haris Fatgehipon, menegaskan bahwa pemisahan Polri dari tubuh TNI merupakan salah satu capaian penting Reformasi 1998.

Ia menjelaskan, kedua institusi ini lahir dengan filosofi yang berbeda, yakni TNI sebagai kekuatan pertahanan yang menjaga keutuhan dan kedaulatan negara, sementara Polri berfungsi sebagai penegak hukum yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang semakin tidak menentu, Presiden bersama Menteri Pertahanan dan pimpinan TNI kini memfokuskan pembangunan kekuatan militer yang profesional dan modern.

Baca Juga: KSAU Tegaskan Komitmen TNI AU Dukung Pembinaan Atlet Panahan Nasional

TNI, kata Abdul Haris, tidak hanya dipersiapkan menghadapi ancaman militer regional maupun internasional, tetapi juga ancaman nonmiliter yang berpotensi mengguncang kedaulatan negara, seperti krisis pangan.

Sementara itu, sejak berpisah dari TNI, Polri terus melakukan pembenahan internal. Perkembangan teknologi dan informasi membuat ancaman keamanan semakin kompleks.

Kejahatan yang dihadapi masyarakat Indonesia tidak lagi bersifat tradisional, melainkan kejahatan transnasional terorganisir (Transnational Organized Crime) seperti perdagangan manusia, narkotika, terorisme, pencucian uang, hingga kejahatan siber.

Baca Juga: Satgas Damai Cartenz Tembak Mati 3 Anggota KKB Pimpinan Ronal Heluka

Abdul Haris menekankan bahwa kompleksitas permasalahan pertahanan dan keamanan saat ini menuntut TNI dan Polri untuk terus meningkatkan kapasitas. Hal itu mencakup kesiapan sumber daya manusia, profesionalisme personel, serta dukungan alutsista yang memadai.

“TNI dan Polri harus terus mengembangkan diri, baik dari aspek kesiapan personel maupun daya dukung alutsista, agar mampu menjawab tantangan pertahanan dan keamanan Indonesia di era modern,” ujarnya di Jakarta, Senin (19/7).

Dengan peran yang berbeda namun saling melengkapi, TNI dan Polri diharapkan dapat bersinergi menghadapi ancaman multidimensional. Kekuatan pertahanan yang tangguh dan penegakan hukum yang efektif menjadi fondasi utama bagi terjaganya stabilitas nasional.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Prajurit Denjaka

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut

Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.