TNI dan ICRC Bahas Isu Penerapan Hukum Humaniter dan HAM di Laut

Jakarta, IDM - Wakil Kepala Badan Pembinaan Hukum (Babinkum) TNI Laksamana Pertama TNI Kresno Buntoro bersama International Committee of the Red Cross (ICRC) membahas isu penerapan hukum humaniter dan HAM di laut, Bali, Selasa (22/11).
Dikutip dari keterangan Puspen TNI, Rabu (23/11), Kresno dan ICRC Regional Director For Asia and Pacific Christine Cipolla, membicarakan hal dalam menghadapi terorisme serta potensi konflik regional yang penyelesaiannya perlu melibatkan berbagai negara.

Kedua belah pihak juga membahas peningkatan kapasitas Hukum Humaniter Internasional (HHI) dan HAM serta hubungan kerja sama lokakarya Senior Workshop on International Rules Governing Military Operations (SWIRMO) yang tengah berlangsung di Bali dan rencana kerja sama ke depan antara ICRC-TNI.
Baca: Sandar di Jakarta, TNI AL Dukung Pengamanan Kapal Perang Pakistan
Sebelumnya, ICRC dan TNI menjalin kerja sama di bidang diseminasi HHI selama lebih dari satu dasawarsa yang mencakup seminar, workshop dan penataran atau diseminasi HHI dan prinsip-prinsip dasar humaniter di Iingkungan TNI. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































