TNI Benarkan Kontak Tembak di KM 50 Area Freeport, Korban Dievakuasi

Jakarta, IDM – Insiden kontak tembak terjadi di kawasan KM 50 area PT Freeport Indonesia pada Rabu Rabu (11/2). Peristiwa tersebut menyebabkan satu prajurit TNI gugur dan dua orang lainnya mengalami luka-luka.
Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Inf Tri Purwanto menyatakan, kejadian berlangsung saat personel Koramil 1710-04/Tembagapura melaksanakan tugas pengamanan di wilayah tersebut.
Baca Juga: TNI AD Buka Suara Terkait Wacana 4.000 ASN jadi Komcad
“Benar telah terjadi insiden kontak tembak. Seluruh korban sudah dievakuasi dan mendapatkan penanganan medis secara optimal,” kata Tri Purwanto.
Dalam laporan sementara, Serka AC dinyatakan gugur. Sertu H mengalami perdarahan pada hidung, sementara seorang karyawan PT Freeport Indonesia berinisial HR mengalami luka tembak dan masih dirawat.
Baca Juga: Pelatihan Komcad ASN akan Dimulai April Selama Tiga Bulan
Pihak TNI, lanjut Kapendam, saat ini tengah memburu pelaku penembakan dan berkoordinasi dengan aparat terkait untuk menjaga keamanan.
“Kami akan terus meningkatkan kewaspadaan di titik-titik rawan, khususnya di kawasan objek vital nasional,” tegasnya. (Ykb)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































