HANKAM

TNI AU Siapkan Perwira Penyidik yang Berkarakter dan Kompeten melalui Pendidikan Suspa

upacara suspa
Upacara pembukaan Pendidikan Kursus Perwira (Suspa) Penyidik Eksekutif Angkatan ke-1. (Foto: Dok. Instagram @kodiklatau_info)

Jakarta, IDM – TNI Angkatan Udara (TNI AU) terus berupaya untuk meningkatkan kualitas serta profesionalisme perwira penyidik dengan menggelar Pendidikan Kursus Perwira (Suspa) Penyidik Eksekutif Angkatan ke-1.

“Melalui penyelenggaraan Suspa Penyidik Eksekutif A-1 ini diharapkan lahir perwira penyidik yang berkarakter kuat, kompeten, serta mampu menjawab tuntutan tugas di era dinamika penegakan hukum modern,” tulis Penerangan Kodiklatau dikutip dari instagram @kodiklatau_info.

Pendidikan Suspa tersebut dibuka secara resmi oleh Komandan Pusat Pendidikan Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (Danpusdik Kodiklatau) Marsma TNI Sapuan di Markas Komando Pusat Polisi Militer Angkatan Udara (Puspomau), Jakarta, Selasa (11/11).

Baca Juga: Pangkoopsudnas Hadiri Defence & Security Exhibition Thailand, Tinjau Perkembangan Teknologi Pertahanan

Dalam sambutannya, Danpusdik Kodiklatau menyampaikan, pendidikan ini menjadi tonggak penting dalam upaya peningkatan kualitas serta profesionalisme perwira penyidik di lingkungan TNI AU.

“Seorang perwira penyidik eksekutif tidak hanya dituntut memahami aturan dan perundang-undangan, tetapi juga harus memiliki karakter, keterampilan, dan integritas tinggi dalam menjalankan setiap proses penegakan hukum,” ungkap Marsma TNI Sapuan.

Danpusdik Kodiklatau Marsma TNI Sapuan
Danpusdik Kodiklatau Marsma TNI Sapuan membuka Pendidikan Kursus Perwira (Suspa) Penyidik Eksekutif Angkatan ke-1. (Foto: Dok. Instagram @kodiklatau_info)

Selain itu, ia menyebut bahwa penyidik yang profesional harus memiliki tiga unsur utama yakni, pengetahuan (knowledge), keahlian (skill), perilaku/sikap (attitude).

Dalam konteks ini, pengetahuan berarti, penyidik harus memahami dengan baik ketentuan hukum, khususnya KUHAP, serta undang-undang khusus yang relevan dengan perkara yang ditangani.

Baca Juga: Jajaran Kodam Brawijaya Terima Sosialisasi Fasilitas Tabungan Wajib Perumahan Angkatan Darat

Selain itu, wawasan sosial, budaya, dan teknologi juga diperlukan agar penyidik mampu membaca konteks setiap kasus secara komprehensif.

“Penyidik juga dituntut memiliki kemampuan teknis seperti pengumpulan dan analisis bukti, penyusunan berkas perkara secara sistematis, teknik interogasi yang efektif dan beretika, serta pemanfaatan forensik digital sebagai bagian dari pembuktian modern,” sambung Sapuan.

Kemudian, dalam hal sikap, Danpusdik menyoroti bagaimana sikap merupakan landasan moral yang menentukan kualitas penyidik. Menurutnya, profesionalisme, integritas, objektivitas, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia dan asas praduga tak bersalah harus selalu dijaga dalam setiap langkah penyidikan. (yas)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.