HANKAM

TNI AU-RTAF Sepakat Perluas Kerja Sama Strategis, Siber hingga Ruang Angkasa

KSAU Marsekal TNI M. Tonny Harjono
KSAU Marsekal TNI M. Tonny Harjono menerima kunjungan kehormatan Commander-in-Chief of the Royal Thai Air Force (C-in-C RTAF) Air Chief Marshal (ACM) Sakesan Kantha di Mabesau. (Foto: Dok. Dispenau)

Jakarta, IDM – Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI M. Tonny Harjono menerima kunjungan kehormatan (courtesy call) Commander-in-Chief of the Royal Thai Air Force (C-in-C RTAF) Air Chief Marshal (ACM) Sakesan Kantha di Mabesau, Cilangkap, Jakarta, Rabu (22/7).

Pertemuan tersebut menghasilkan komitmen kedua pimpinan angkatan udara untuk memperkuat diplomasi pertahanan melalui perluasan kerja sama strategis di berbagai bidang. Upaya tersebut diarahkan untuk meningkatkan profesionalisme, interoperabilitas, serta kesiapan kedua angkatan udara dalam menghadapi tantangan keamanan kawasan yang terus berkembang.

Baca Juga: KSAU Dorong 154 Paja TNI AU jadi Lifelong Learner : Kembangkan Kompetensi Diri

"Hubungan TNI Angkatan Udara dan Royal Thai Air Force telah terjalin erat selama bertahun-tahun melalui berbagai bentuk kerja sama, antara lain latihan bersama, pendidikan, pertukaran personel, pertemuan staf, dan diskusi profesional," ungkap Tonny dikutip dari siaran pers Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Dispenau), Kamis (23/7).

KSAU Marsekal TNI M. Tonny Harjono
KSAU Marsekal TNI M. Tonny Harjono menganugerahkan Wing Kehormatan Penerbang Kelas I TNI Angkatan Udara kepada ACM Sakesan Kantha. (Foto: Dok. Dispenau)

Berangkat dari fondasi kerja sama tersebut, kedua pihak kemudian membahas sejumlah peluang kolaborasi baru, meliputi keamanan siber, ruang angkasa, serta bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana (Humanitarian Assistance and Disaster Relief/HADR).

Kemudian, keduanya juga membahas pertukaran Subject Matter Expert Exchange (SMEE), peningkatan pertukaran personel, dan pengembangan latihan bersama sebagai bagian dari penguatan interoperabilitas.

Baca Juga: Pertemuan DCC Ketiga, Indonesia dan Singapura Bahas Kawasan Latihan Militer

Senada dengan itu, ACM Sakesan Kantha menilai Indonesia merupakan mitra strategis Thailand di kawasan yang memiliki banyak kesamaan kepentingan. “Dinamika lingkungan keamanan global menuntut angkatan udara kedua negara untuk terus memperkuat kolaborasi, khususnya di bidang teknologi, keamanan siber, unmanned aerial vehicle (UAV), serta pengembangan sumber daya manusia guna menghadapi tantangan masa depan,” ungkap dia.

Pada kesempatan yang sama, KSAU menganugerahkan Wing Kehormatan Penerbang Kelas I TNI Angkatan Udara kepada ACM Sakesan Kantha. Penghargaan tersebut diberikan atas kepemimpinan serta dedikasinya dalam membangun serta mempererat persahabatan yang berkelanjutan antara TNI Angkatan Udara dan Royal Thai Air Force.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.