TNI AU Kerahkan Tim Tanggap Darurat Kecelakaan : Investigasi Penyebab Insiden Super Tucano di Pasuruan

Jakarta, IDM - TNI Angkatan Udata (TNI AU) mengerahkan Tim Tanggap Darurat Kecelakaan atau Accident Quick Response Team (AQRT) ke lokasi jatuhnya 2 pesawat Super Tucano di Pasuruan, Jawa Timur, Jumat (17/11).
Tim tersebut berasal dari Pusat Kelaikan Terbang dan Kerja TNI Angkatan Udara (Puslaiklambangjaau) yang dipimpin langsung oleh Kapuslaiklambangjaau Marsda TNI Benedictus Koessentianto.
AQRT dikerahkan untuk melakukan penyelidikan dan investigasi awal penyebab terjadinya insiden nahas yang terjadi pada Kamis (16/11) kemarin.
Baca Juga: Insiden Pesawat Super Tucano, Jenazah 4 Perwira TNI AU Dimakamkan dengan Upacara Militer
"Proses investigasi akan menyertakan analisis dari berbagai aspek teknis dan operasional, dengan tujuan untuk mengetahui penyebab dan mengidentifikasi langkah-langkah perbaikan yang diperlukan guna mencegah kejadian serupa di masa depan," tulis TNI AU dalam keterangan foto instagram @militer.udara.
TNI AU berharap, investigasi ini nantinya dapat memberikan pemahaman yang mendalam tentang insiden jatuhnya pesawat Super Tucano TT-3111 dan TT-3103 asal Skadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh Malang itu.

Hasil investigasi dan penyelidikan ini, lanjut TNI AU, diharapkan dapat memberi kontribusi positif dalam upaya meningkatkan keselamatan dan kelaikan terbang dalam setiap operasi udara TNI AU.
Insiden jatuhnya pesawat Super Tucano ini telah menyebabkan 4 perwira terbaik TNI AU gugur. Mereka adalah Marsma TNI (Anumerta) Subhan, Marsma TNI (Anumerta) Widiono, Kolonel Pnb (Anumerta) Sandhra Gunawan, dan Letkol Pnb (Anumerta) Yuda A. Seta.
Baca Juga: Unjuk Kedaulatan Indonesia di Pasifik Barat, Satgas Sail Teluk Cendrawasih-23 Bertolak ke Biak
Saat insiden nahas itu terjadi, keempatnya mengawaki 2 pesawat Super Tucano yang berbeda, masing-masing dengan tail number TT-3111 dan TT-3103, untuk melaksanakan latihan profisiensi.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara (Kadispenau) Marsma TNI R. Agung Sasongkojati dalam keterangan resminya menjelaskan, sebelum dinyatakan jatuh, pesawat terlebih dahulu dilaporkan hilang kontak (lost contact). Cuaca saat itu, kata Agung, dilaporkan kurang baik.
“Setelah take off pada pukul 10.51 WIB, pesawat bergabung dalam formasi dan sesaat kemudian cuaca kurang baik. Pesawat sudah melepaskan diri, namun saat itulah terjadi kehilangan kontak terhadap pesawat nomor 1 dan 3, yaitu TT-3111 dan TT-3103 pada pukul 11.18 WIB,” pungkasnya. (yas)
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































