HANKAM

TNI AU Beri Brevet HUET kepada 26 Perwira Kesehatan TNI, Ini Daftar Namanya

Perwira TNI
Perwira TNI saat mengikuti serangkaian materi lapangan dan pelatihan HUET. (Foto: Dok. Dispenau)

Jakarta, IDM - Sebanyak 26 perwira kesehatan TNI mendapat Brevet Helicopter Underwater Escape Training (HUET) dari TNI Angkatan Udara (TNI AU) melalui Lembaga Kesehatan Penerbangan dan Ruang Angkasa (Lakespra) dr. Saryanto.

Melansir keterangan Dispenau, Rabu (5/7), penganugerahan Brevet HUET kepada puluhan perwira tersebut merupakan bentuk penguatan silaturahmi, ekosistem kesehatan, kerja sama, kolaborasi dan sinergi yang terkait dengan pengembangan kesehatan di jajaran kesehatan TNI guna mendukung tugas pokok TNI.

Baca Juga: KKB Minta Tebusan Pembebasan Pilot Susi Air, Panglima TNI: Kemanusiaan Tak Ada Harganya

Selaras dengan hal tersebut, brevet ini sekaligus menjadi simbol kualifikasi kemahiran, kehormatan, pengabdian, dan tanggung jawab yang diberikan oleh TNI AU atas usaha dan jerih payah para perwira usai mengikuti serangkaian materi lapangan serta pelatihan HUET.

Perwira TNI
Kepala Lakespra dr.Saryanto, Marsma TNI Dr. Roikhan Harowi saat menyematkan brevet HUET kepada perwira TNI. (Foto: Dok. Dispenau)

Mereka mendapat Brevet HUET yang disematkan langsung oleh Kepala Lakespra dr. Saryanto, Marsma TNI Dr. Roikhan Harowi di Lakespra dr. Saryanto Jakarta, Selasa (4/7). Dalam sambutannya, Roikhan mengungkapkan, dibutuhkan keterampilan teknis pernapasan dan manuver di dalam air, yakni fleksibilitas serta teknik berenang dalam HUET.

“Untuk itu, agar pelatihan aman, maka diterapkan standar pelatihan internasional yang meliputi hoist operator, module egress, traning systems training dan safety diver dari Survival System Training, Nova Scotia Canada," imbuhnya.

Baca Juga: Dankormar Pimpin Serah Terima Tiga Jabatan Strategis Korps Marinir

Adapun nama-nama perwira TNI yang mendapat brevet HUET yakni Kapuskes TNI Mayjen TNI dr. Guntoro, Kakomed RSPAD Mayjen TNI dr. Purwo, Kapuskesad Mayjen TNI Dr. dr. Sukirman, Kapoksahli RSPAD Mayjen TNI dr. Nyoto, Kadiskesal Laksmana TNI dr. Agus Guntoro, Dirum Puskesad Brigadir Jenderal TNI dr. Andreas Andri Lensoen Tjoma, Wakapuskes TNI Marsma TNI DR.dr. Arief, Inspektur Puskesad Brigjen TNI Dr.dr. Kartika A., dan Waka Puskesad Brigjen TNI Dr. dr. Moh. Arif,

Selanjutnya, terdapat nama Kolonel Laut (K) dr. Dwi A, Kolonel Laut (K) dr. Sapta, Kolonel Kes Abdul Goni, Apt., Kolonel Laut (K) Dr. dr. Tjahya, Kolonel Laut (K) Asngari, Kolonel Kes M.Wasil, Kolonel Laut (K) drg. Sudarmono, Kolonel Kes Abdul Kholik, Kolonel Ckm Yunesko, Kolonel Laut (K) Hariyanto, Letkol Ckm Perdiman, Letkol Ckm Purba, Letkol Laut (K) Tri Rade Arumi, Letkol Laut (K) Muzammil, Letkol Ckm drh. Joko S., Mayor Ckm Shanty Kasary, dan Kapten Laut (K) Malikul Husna. (yas)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.