HANKAM

TNI AL Ringkus Kapal Pengangkut Ratusan Kayu Log Ilegal di Papua Barat Daya

Petugas KRI Madidihang-855
Petugas KRI Madidihang-855 menghitung manual tumpukan kayu log di atas tongkang TK Kaltara Kebajikan di perairan Teluk Berau, Papua Barat Daya, Sabtu (1/8). (Foto: Dok. Dispenal)

Jakarta, IDM – Kapal perang KRI Madidihang-855 menghentikan dan memeriksa kapal tunda TB Buma Nilam yang menarik tongkang TK Kaltara Kebajikan di perairan Teluk Berau, Papua Barat Daya, Sabtu (1/8). Armada tempur jajaran Gugus Tempur Laut (Guspurla) Komando Armada (Koarmada) III tersebut membongkar dugaan pengangkutan ratusan batang kayu gelondongan (log) ilegal.

Petugas langsung memeriksa muatan kapal milik PT Surya Bahau Mandiri yang berlayar dari Bintuni menuju Gresik tersebut. Lembar dokumen kapal hanya mencantumkan muatan sebanyak 590 batang kayu log, tetapi penghitungan manual petugas di atas geladak tongkang menemukan 714 batang kayu gelondongan.

Selain memanipulasi jumlah muatan hasil hutan, tim pemeriksa menemukan pelanggaran serius pada keselamatan pelayaran. Kapal tunda tersebut memuat kayu melebihi kapasitas hingga garis muat (plimsoll mark) tenggelam di bawah permukaan air akibat kelebihan muatan (overdraft).

Baca Juga: TNI Susun Operasi Pertahanan Udara Nasional, akan Libatkan Instansi Sipil

Petugas juga mendapati ketidaksesuaian sistem identifikasi otomatis (automatic identification system/AIS) dan pemancar sinyal darurat (emergency position indicating radio beacon/EPIRB) dengan surat izin stasiun radio kapal laut. Nakhoda bahkan tidak menyertakan buku catatan radio (radio logbook) serta buku catatan sampah (garbage record book) sesuai regulasi pelayaran internasional.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksma Tunggul membenarkan penindakan terhadap kapal pengangkut kayu log tersebut.

Tim pemeriksa
Tim pemeriksa dari KRI Madidihang-855 menginterogasi nakhoda dan kru kapal TB Buma Nilam. (Foto: Dok. Dispenal)

"Prajurit KRI Madidihang-855 menghentikan kapal di Teluk Berau setelah mendapati ketidaksesuaian dokumen muatan kayu log serta pelanggaran aturan keselamatan pelayaran," kata Tunggul, dikutip dari keterangan Dispenal, Minggu (2/8).

Baca Juga: TNI AU dan Angkatan Udara Kamboja Sepakati Sejumlah Kerja Sama Baru, Ini Rinciannya

Tunggul menegaskan jajaran TNI AL terus mengawal kelestarian sumber daya alam nasional dari praktik kejahatan maritim.

"Penindakan ini menjalankan instruksi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali untuk memperketat pengawasan laut, menindak tegas kejahatan maritim, dan melindungi sumber daya alam nasional," tegas Tunggul.

Atas pelanggaran bertumpuk tersebut, KRI Madidihang-855 mengawal TB Buma Nilam dan tongkangnya menuju Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) XIV Sorong. Penyidik TNI AL menyerahkan kapal beserta seluruh muatannya untuk menjalani proses hukum lanjutan.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.