TNI AL Kirim Taruna ke Akademi Coast Guard AS untuk Pertama Kalinya

Jakarta, IDM – Markas Besar Angkatan Laut (Mabesal) mengukir sejarah baru dalam bidang diplomasi pertahanan. Pertama kalinya, TNI AL bakal menerjunkan para taruna terbaiknya untuk menimba ilmu di US Coast Guard Academy (USCGA).
Langkah strategis tersebut tercapai usai pertemuan dua negara bertajuk diskusi staf antara delegasi TNI AL dengan Angkatan Laut AS yang berlangsung di Jakarta, pada 9-10 April. Kesepakatan krusial ini ditandatangani langsung oleh Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (Asops KSAL) Laksda Yayan Sofiyan bersama Wakil Komandan Armada ke-7 Angkatan Laut AS Laksda Katie Sheldon.
Fokus Penegakan Hukum Laut
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksma Tunggul menegaskan, perluasan jangkauan pendidikan ke akademi tersebut bukan tanpa alasan. Institusi melihat adanya urgensi besar untuk mencetak perwira yang piawai dalam penegakan hukum di wilayah perairan atau law enforcement at sea.
Baca Juga: Satpom Lanud Halim Perdanakusuma Amankan Empat Terduga Pelaku Jual Beli Obat Keras Ilegal
"Pertimbangan utamanya, yakni kebutuhan organisasi akan perwira masa depan yang menguasai pemahaman mendalam serta keahlian spesifik mengenai tugas hukum di laut," ungkap Tunggul kepada Indonesia Defense Magazine di Jakarta, Sabtu (11/4).
Menurut Tunggul, dinamika gangguan keamanan maritim global saat ini menuntut personel tidak sekadar jago dalam taktik pertempuran. Perwira masa depan wajib fasih terhadap aturan internasional serta prosedur hukum di laut agar kedaulatan Indonesia tetap terjaga melalui jalur legal yang diakui dunia.
Baca Juga: Pimpin Laporan Kesiapan OJT, Ini Pesan Gubernur Akmil
Implementasi Diplomasi Militer
Pengiriman calon perwira ke akademi bergengsi di Negeri Paman Sam tersebut merupakan buah dari arahan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto. Program ini menjadi wujud nyata penerapan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif dalam sektor pertahanan.
"TNI AL menyambut hangat kesediaan pihak Amerika Serikat yang membuka pintu bagi taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) untuk mencicipi kurikulum di sana. Peluang emas ini wajib kita optimalkan demi mendongkrak kualitas sumber daya manusia," imbuh Tunggul.
Melalui kemitraan ini, TNI AL berupaya menyerap standar operasional serta pengawasan wilayah laut secara menyeluruh atau yang dikenal sebagai kesadaran ranah maritim. Ilmu tersebut diharapkan menjadi nilai tambah signifikan saat para prajurit kembali ke tanah air untuk menghadapi berbagai tantangan di wilayah perbatasan Indonesia yang kian kompleks.
Baca Juga: Calon Prajurit Pasgat, Siswa Komando A-49 Latih Kemampuan dan Naluri Tempur dalam Pralatis
Mempererat Hubungan Bilateral
Selain aspek edukasi, pengiriman personel ini sekaligus memperkokoh jalinan diplomasi militer antara Indonesia dan Amerika Serikat. Kehadiran taruna AAL di lingkungan pendidikan militer AS diprediksi bakal mempererat hubungan personal antarcalon pemimpin angkatan bersenjata kedua negara di masa depan.
Pihak TNI AL kini tengah mematangkan seluruh aspek administratif guna memastikan para duta bangsa yang terpilih nantinya mampu memenuhi persyaratan ketat yang ditetapkan oleh pihak akademi di AS tersebut. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































