HANKAM

TNI AL Godok Sistem Tempur Digital Terintegrasi lewat Pusat Perang Elektronika

Gambaran komprehensif EW.
Gambaran komprehensif peperangan elektronika (EW) di domain laut, darat, udara, dan luar angkasa, yang menunjukkan bagaimana sistem militer modern mengandalkan spektrum elektromagnetik untuk komunikasi, panduan, dan serangan. (Foto: Dok. japcc.org)

Jakarta, IDM – TNI AL tengah mematangkan cetak biru pertempuran modern berbasis jaringan (network centric warfare) dengan mendesain pembangunan Pusat Perang Elektronika atau Electronic Warfare Center (EWC) untuk menyatukan seluruh sistem sensor, senjata, dan komunikasi militer ke dalam satu komando digital.

Asisten Komunikasi dan Elektronika Kepala Staf Angkatan Laut (Askomlek KSAL) Laksda Dwi Cahyo Kuncoro memimpin langsung perumusan konsep EWC ini di Mabesal, Cilangkap, Jakarta, Senin (13/7). Rapat tersebut membahas peta jalan pembangunan fasilitas yang mencakup kesiapan organisasi, doktrin tempur, infrastruktur teknologi, hingga penyiapan sumber daya manusia pertahanan.

Baca Juga: Ini 6 Aturan Wajib Prajurit Kostrad TNI AD yang Jarang Diketahui Publik!

Nantinya, pusat komando baru ini mengintegrasikan tiga pilar utama pertahanan frekuensi. Ketiga komponen tersebut meliputi dukungan elektronika (electronic support) untuk melacak posisi musuh, serangan elektronika (electronic attack) guna mengacaukan radar lawan, serta pertahanan elektronika (electronic protection) demi mengamankan jalur komunikasi kapal perang sendiri dari sabotase siber.

Dwi menegaskan, penguasaan teknologi frekuensi merupakan kunci utama untuk memenangkan pertempuran di era modern.

"Peperangan elektronika merupakan kapabilitas strategis yang memiliki peran penting dalam mewujudkan keunggulan informasi di medan operasi," kata Dwi, dikutip dari laman TNI AL, Selasa (14/7).

Dwi menilai penyatuan ketiga pilar pertahanan frekuensi di dalam satu wadah akan menjadi fondasi penting bagi keselamatan armada tempur saat beroperasi di laut lepas.

"Pembangunan EWC diharapkan mampu mengintegrasikan kemampuan Electronic Support, Electronic Attack, dan Electronic Protection untuk meningkatkan efektivitas operasi laut sekaligus memperkuat sistem komando dan pengendalian secara terpadu," jelasnya.

Baca Juga: Dua ‘Prajurit’ Tangan Kanan Presiden Bakar Semangat Ribuan Taruna Akmil TNI AD

Selain berfungsi sebagai pusat kendali taktis saat operasi militer, EWC juga akan mengemban tugas sebagai pusat pendidikan, pengujian alat, dan pengembangan doktrin perang siber maritim. Fasilitas ini memastikan seluruh kapal perang, pesawat patroli, dan pangkalan darat TNI AL saling terhubung secara berkala (real-time) saat menghadapi ancaman.

TNI AL menargetkan cetak biru pusat perang elektronika ini segera rampung agar bisa langsung memperkuat daya tangkal militer di wilayah perairan yurisdiksi Indonesia.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.