TNI AL Gembleng Mahasiswa STTAL Kuasai Alutsista Mandiri Berdaya Gentar Tinggi

Jakarta, IDM – TNI AL terus memacu penguasaan teknologi pertahanan untuk memperkuat kemandirian alutsista nasional. Fokus ini menjadi sorotan utama dalam kuliah umum yang diikuti 300 mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) di Surabaya, Rabu (25/3).
Agenda bertajuk strategis ini menghadirkan dua narasumber kunci, yakni Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksda (Purn) Amarulla Octavian serta Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (Asops KSAL) Laksda Yayan Sofiyan. Kegiatan ini bertujuan menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang mampu menjawab tantangan lingkungan strategis global melalui rekayasa teknologi.
Komandan STTAL Laksda Mukhlis, menekankan tantangan masa depan menuntut personel yang tidak hanya terpaku pada teks buku. Menurutnya, penguasaan teori harus berjalan beriringan dengan kemampuan praktik dan inovasi yang nyata.
Baca Juga: KRI Nala-363 Sambangi Prajurit TNI AL di Miangas Perbatasan Filipina
"Penyiapan sumber daya manusia tidak cukup hanya dengan penguasaan teori, namun harus diperkuat dengan budaya riset, kemampuan analisis strategis, literasi teknologi, serta kemampuan inovasi," tegas Mukhlis.
Langkah konkret pun diambil dengan membentuk lima kelompok kajian keilmuan di internal STTAL. Kelompok ini diharapkan menjadi motor penggerak untuk menghasilkan naskah akademik, rekomendasi strategis, hingga purwarupa (prototype) teknologi yang bisa langsung digunakan oleh satuan operasional TNI AL.
Dalam sesi pemaparan, Wakil Kepala BRIN Laksda (Purn) Amarulla Octavian membedah bagaimana lembaga riset nasional menyokong kebutuhan militer. Ia menyoroti pentingnya integrasi antara penelitian dan kebutuhan teknis di lapangan.
Baca Juga: Pesawat Airbus A400M Kedua Dijadwalkan Tiba di Indonesia Akhir Maret Ini
"Peran BRIN dalam kemandirian kebutuhan alutsista strategis TNI dilakukan melalui sinergitas penelitian rekayasa teknologi," jelas Amarulla Octavian di hadapan para peserta.
Senada dengan hal tersebut, Asops KSAL Laksda Yayan Sofiyan memaparkan posisi STTAL sebagai aset vital bagi TNI AL. Fokusnya adalah pengembangan sistem pengawasan laut (naval surveillance), pertahanan, hingga strategi menyerang (striking strategy) untuk mendukung konsep bertempur matra laut yang modern.
Sinergi antara dunia akademik, lembaga riset, dan kebutuhan operasional ini menjadi fondasi untuk mewujudkan kekuatan pertahanan maritim Indonesia yang mandiri. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun daya gentar tinggi menuju visi Indonesia Emas 2045. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































