TNI AL Gelar Patroli Keamanan Laut di Perairan Nabire

Jakarta, IDM – Pangkalan TNI AL (Lanal) Nabire mengawali 2025 dengan patroli keamanan laut di perairan Kabupaten Nabire, Papua, Kamis (2/1).
Pantauan dilakukan di wilayah strategis yang meliputi jalur pelayaran; kawasan penangkapan ikan, dan titik-titik rawan aktivitas ilegal.
Baca Juga: Lulus Pendidikan di Australia, Mayor Fahmi Jadi Komandan Sekolah Kapal Selam
Komandan Lanal Nabire, Letkol Laut (P) Pius Herdasa Krisna Murti menekankan pentingnya patroli sebagai upaya menjaga keamanan maritim. Apalagi, ancaman seperti penyelundupan, perdagangan illegal dan kecelakaan laut berpotensi terjadi di awal tahun.
"Patroli ini bukan hanya untuk menegakkan hukum di laut, tetapi juga untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat maritim," kata Pius, dikutip dari Puspen TNI, Senin (6/1).
Baca Juga: Kodiklatal Luluskan 10 Prajurit Berkemampuan Siber
"Tugas kita adalah memastikan bahwa tahun 2025 diawali dengan kondisi laut yang aman, tertib, dan terkendali," sambungnya.
Kendati selama operasi patroli, tidak ditemukan aktivitas mencurigakan, Pius menegaskan bahwa pengawasan dan patroli rutin akan terus dilakukan untuk memastikan wilayah perairan Nabire tetap dalam kondisi aman. (un)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































