HANKAM

TNI AL Fokus Bangun Postur Pertahanan Laut dan Hidro-Oseanografi di 2027

KSAL Laksamana Muhammad Ali
KSAL Laksamana Muhammad Ali saat membuka rapat koordinasi perencanaan dan anggaran I tahun 2026 di Mabesal, Cilangkap, Jakarta, Senin (13/7). (Foto: Dok. Dispenal)

Jakarta, IDM – TNI AL mulai merancang arah kebijakan militer tahun anggaran mendatang dengan memprioritaskan pembangunan postur pertahanan laut serta penguatan sektor hidro-oseanografi (pemetaan dan riset kelautan) dalam rencana kerja 2027.

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali merumuskan target tersebut saat membuka rapat koordinasi perencanaan dan anggaran I tahun 2026 di Mabesal, Cilangkap, Jakarta, Senin (13/7). Pertemuan ini bertujuan menyusun rencana kerja dan anggaran TNI AL untuk periode 2027.

Penyusunan anggaran 2027 ini menjadi bagian penting karena menandai tahun ketiga pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. TNI AL merancang postur pertahanan baru ini untuk mendukung penuh implementasi program Astacita milik pemerintah.

Baca Juga: Strategi TNI Sekat Paham Radikalisme-Separatisme OPM, Bukan dengan Senjata

Ali menegaskan, pembangunan kekuatan maritim Indonesia ke depan harus berjalan objektif dan berbasis data. TNI AL wajib mengutamakan kebutuhan operasional riil sekaligus peka terhadap dinamika lingkungan strategis, baik di tingkat global maupun regional.

"Segala perencanaan harus objektif dan berbasis data dengan mengutamakan kebutuhan operasional, evaluasi kinerja, analisis risiko, serta perkembangan lingkungan strategis global maupun regional," kata Ali, dikutip dari keterangan Dispenal, Selasa (14/7).

Ali juga meminta seluruh jajarannya untuk berpikir kreatif, adaptif, dan keluar dari pakem konvensional (out of the box). Inovasi ini menjadi kunci agar TNI AL tetap mampu melahirkan program kerja yang bernilai strategis bagi kesiapan operasi militer di tengah keterbatasan anggaran negara.

Baca Juga: Aksi 2 Kapal TNI AL di Laut Bitung, Satu KRI Menuju Rusia

Salah satu langkah modernisasi internal yang tengah berjalan adalah percepatan penerapan konsep kantor pintar (smart office) demi memangkas birokrasi pengambilan keputusan. Selain memodernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan memperkuat fasilitas pangkalan, TNI AL juga mengalokasikan anggaran untuk meningkatkan profesionalisme prajurit serta memprioritaskan penggunaan produk dalam negeri (P3DN) guna menyokong industri pertahanan lokal.

TNI AL optimistis bisa merumuskan program kerja 2027 secara realistis, partisipatif, dan berkelanjutan. Upaya ini dinilai penting karena rencana kerja pemerintah pada 2027 berfokus pada percepatan ekonomi nasional, yang mana membutuhkan jaminan stabilitas serta keamanan maritim yang kokoh di seluruh wilayah yurisdiksi Indonesia.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.