HANKAM

TNI AL di Gorontalo Bangun Tiga Posko Antisipasi Tsunami Gempa Rusia

Peta Gempa bumi magnitudo 8,7.
Gempa bumi magnitudo 8,7 di pesisir timur Kamchatka, Rusia. Berpotensi Tsunami di wilayah Indonesia. (Foto: Dok. BMKG)

Jakarta, IDM – Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) RI Laksamana Madya Denih Hendrata mengungkapkan, Pangkalan TNI AL (Lanal) Gorontalo menyiapkan tiga titik posko tanggap darurat tsunami pascagempa Rusia.

"Lanal Gorontalo menyiapkan posko tanggap darurat bencana di tiga titik, di Markas Komando (Mako) Satuan Tugas (Satgas) Lanal Kwandang, Mako Lanal Gorontalo, dan pos TNI AL (Posal) Kwandang," ungkap Denih, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (30/7).

Adapun rincian posko tanggap darurat, terdapat di dua unit gedung Lanal Gorontalo dengan pengungsi 80 orang dari warga Desa Leato Selatan, yakni 43 laki-laki dan 37 perempuan.

Baca Juga: Antisipasi Tsunami Pascagempa Rusia, Lanal Gorontalo Amankan Sejumlah Alutsista

"Disiapkan pula satu unit ambulans dan dua sekoci karet yang standby, kemudian di masing-masing posko ada personel Lanal Gorontalo membuka balai pengobatan," papar Denih.

Selain itu, Denih juga menyampaikan Lanal Gorontalo diperintahkan untuk mengamankan sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) seperti Kapal Angkatan Laut (KAL) hingga sejumlah perahu seperti CB, RBB, dan sea rider

"Lanal Gorontalo pun menyampaikan peringatan dini kepada seluruh masyarakat pesisir untuk waspada. Para nelayan diperingatkan bahaya tsunami dan tidak dibolehkan melaut terlebih dahulu sampai situasi aman," kata Denih.

Baca Juga: Lawatan ke Belarus, Menhan Sjafrie Bahas Penguatan Kerja Sama Pertahanan

Lanal Gorontalo yang dipimpin Letkol Laut (P) Hanny Chandra, juga melaksanakan komunikasi sosial oleh para personel dari pos TNI AL dan Bintara Pembina Potensi Maritim (Babinpotmar) kepada masyarakat pesisir untuk waspada dan tidak panik.

Sebelumnya, gempa bumi bermagnitudo 8,7 mengguncang pesisir timur Kamchatka, Rusia, Rabu pagi. Hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan gempa tersebut berpotensi menimbulkan tsunami di 10 wilayah Indonesia dengan status waspada atau ketinggian kurang dari 0,5 meter.

Adapun perkiraan tsunami itu akan sampai pada siang hingga sore hari pada waktu setempat.

Baca Juga: Empat Pamen TNI AU Rampungkan Pendidikan Militer Strategis dari AFCC Beijing

"Gempa tersebut berpotensi menimbulkan tsunami di wilayah Indonesia dengan status waspada," kata Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono melalui keterangan yang disampaikan BMKG.

Kesepuluh wilayah itu yakni:

  1. Talaud (ETA 14:52:24 WITA)
  2. Kota Gorontalo (ETA 16:39:54 WITA)
  3. Halmahera Utara (ETA 16:04:24 WIT)
  4. Manokwari (ETA 16:08:54 WIT)
  5. Raja Ampat (ETA 16:18:54 WIT)
  6. Biak Numfor (ETA 16:21:54 WIT)
  7. Supiori (ETA 16:21:54 WIT)
  8. Sorong bagian Utara (ETA 16:24:54 WIT)
  9. Jayapura (ETA 16:30:24 WIT)
  10. Sarmi (ETA 16:30:24 WIT). (at)
PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.