HANKAM

TNI AL dan Australia Latihan Bersama Amankan Laut Perbatasan dari Kejahatan Maritim

TNI AL-RAN
Prajurit TNI AL dan Angkatan Laut Australia melakoni manuver menggunakan perahu karet (RHIB) di perairan Darwin, Australia, sebagai bagian dari serial Cassowary Exercise 2026. (Foto: Dok. TNI AL)

Jakarta, IDM – TNI AL mengirimkan 15 prajurit ke Pangkalan Angkatan Laut Australia di HMAS Coonawarra, Darwin, pada 27–31 Juli 2026. Tim khusus pimpinan Kolonel Laut (P) Ferry H. Hutagaol ini bergabung dalam latihan militer bilateral Cassowary Exercise 2026.

Latihan ini memfokuskan taktik pengerahan kapal perang patroli cepat (minor war vessel) serta prosedur penegakan hukum maritim. Prajurit TNI AL dan Australia menyimulasikan sejumlah skenario penindakan untuk mencegah kejahatan lintas negara, seperti penyelundupan manusia dan pencurian ikan di wilayah perbatasan.

Agenda tahunan ini sekaligus menjadi simulasi penyiapan personel sebelum kedua negara menggelar operasi patroli terkoordinasi Australia-Indonesia (Patkor Ausindo).

Baca Juga: Dua Kapal Perang Cina Singgah 4 Hari di Surabaya, Ada Apa?

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksma Tunggul Suropati menjelaskan keterlibatan pasukan TNI AL dalam serial latihan di Darwin tersebut.

"Latihan ini menjadi investasi nyata dan persiapan operasional sebelum pelaksanaan Patkor Ausindo demi menjaga keamanan wilayah perbatasan kedua negara," ujar Tunggul, dikutip dari keterangan Dispenal, Senin (3/8).

Prajurit TNI AL-RAN
15 prajurit TNI AL mendengarkan pengarahan (briefing) sebelum memulai sesi latihan bersama Angkatan Laut Australia di pangkalan HMAS Coonawarra, Darwin. (Foto: Dok. TNI AL)

Tunggul menambahkan keterlibatan TNI AL dalam agenda internasional ini sekaligus menjadi landasan dalam menjaga stabilitas kawasan.

"Partisipasi ini mencerminkan komitmen Indonesia dalam mendukung stabilitas keamanan maritim di kawasan Indo-Pasifik melalui kerja sama yang saling menguntungkan," tegasnya.

Baca Juga: TNI Kirim 2 Ton Logistik ke Puncak Jaya, Tempuh 12 Hari Perjalanan

Berdasarkan rekam jejaknya, Cassowary Exercise merupakan agenda rutin antara TNI AL dan Angkatan Laut Australia yang bergulir bergantian di antara kedua negara sejak dekade 1990-an. Serial ini konsisten mengasah kemampuan unsur minor war vessel kedua negara dalam mengawasi kawasan Laut Timor dan Laut Arafura.

Pada penyelenggaraan edisi November 2025 lalu, latihan ini bertempat di perairan Kupang, Nusa Tenggara Timur. Saat itu, TNI AL melibatkan kapal perang patroli KRI Bawal-875 bersama kapal pemetaan hidrografi KRI Spica-934 untuk melakoni manuver taktis serta pemetaan dasar laut bareng kapal survei Australia HMAS Leeuwin.

Usai menuntaskan tahapan latihan di Darwin tahun ini, para prajurit TNI AL bertolak kembali ke tanah air untuk bersiap menjalankan Patkor Ausindo di sepanjang perairan selatan Indonesia.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.