TNI AL dan Amerika Kerahkan Ratusan Prajurit dalam Latma Carat 2025, Digelar Sepekan

Jakarta, IDM – Sebanyak 940 prajurit dari TNI AL dan Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) dikerahkan dalam latihan bersama Cooperation Afloat Readiness and Training (Carat) 2025.
Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Koarmada II Kolonel Laut (P) Antonius Februar Prima Hadi, mengungkapkan latihan bersama ini akan digelar di sejumlah lokasi di Jawa Timur, salah satunya Situbondo, dijadwalkan selama 23-30 Juni.
"Tahun ini, Koarmada II bertindak sebagai penyelenggara utama latihan," ungkap Antonius dalam keterangannya.
Baca Juga: Mayjen Edwin Resmi Jabat Danpaspampres, Brigjen Yudha Airlangga Jadi Dankoopssus
Adapun rincian masing-masing prajurit yang dikerahkan kedua angkatan laut, 700 prajurit dari TNI AL yang meliputi Komando Pasukan Katak (Kopaska); Korps Marinir, Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal); Pangkalan TNI AL (Lanal) jajaran Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) V; tenaga medis dari RSPAL dr. Ramelan.
Sedangkan US Navy membawa 240 prajuritnya, termasuk dari Korps Marinir Amerika Serikat (USMC).
Latihan Terpadu dari Darat hingga Laut
Antonius menjelaskan, TNI AL dan US Navy akan menjalani sejumlah materi latihan yang terbagi dalam dua fase utama, yakni fase pangkalan (harbour phase) dan fase laut (sea phase).
"Fase pangkalan mencakup perencanaan terkoordinasi, pertukaran keahlian antar-personel serta kegiatan civil action bidang teknik dan medis," jelasnya.
Baca Juga: Warga di Banten Sukarela Beri Lahan untuk Latihan Militer TNI AD
Sedangkan fase laut akan berfokus pada materi manuver gabungan kapal perang TNI AL dan US Navy, skenario taktis maritim untuk memperkuat interoperabilitas antar-unit, serbuan maritim hingga latihan tempur laut.
Ruang Berbagi Taktik dan Strategi
Pangkoarmada II Laksamana Muda I Gung Putu Alitjaya saat membuka latihan bersama Carat 2025, menegaskan kegiatan ini merupakan forum berbagi taktik dan strategi untuk TNI AL maupun US Navy.
Selain itu, menurutnya latihan bersama kedua angkatan laut negara ini juga sebagai ruang untuk membangun kepercayaan dan menjalin persaudaraan antar-prajurit dua negara.
Baca Juga: Prajurit Yonarmed 11 Olah Kembali Lahan Tidak Produktif di Perbatasan
"Carat 2025 adalah tentang memahami satu sama lain dalam situasi kompleks. Hubungan personel adalah pondasi dari kerja sama militer yang kuat dan berkelanjutan," tegasnya dalam amanat saat pembukaan latma Carat 2025, dikutip dari siaran YouTube Koarmada II.
Sementara, Komodor Skadron Tempur 7 (CDS-7) Kapten Matt Scarlett yang turut hadir membuka latihan tersebut menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan Carat 2025 dan menyebut latihan ini sebagai pilar utama dalam memperkuat stabilitas maritim kawasan Indo-Pasifik.
"Carat 2025 hadir di tengah dinamika kawasan yang semakin kompleks, dari ancaman pelanggaran hukum laut hingga meningkatnya kebutuhan tanggap bencana di wilayah maritim. Latihan ini mencerminkan kesungguhan Indonesia dan Amerika dalam menjaga perdamaian, mendorong stabilitas, dan menegakkan hukum laut internasional," tuturnya. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































