HANKAM

TNI AL Beberkan Alasan Tembak Nelayan di Perairan Palembang

Kapal TNI AL.
Beredar video yang memperlihatkan nelayan asal Banyuasin, Sumatra Selatan ditembak saat tengah berlayar hingga mengalami luka. (Foto: Dok. Instagram @plg_yedak)

Jakarta, IDM – Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama Tunggul, mengungkapkan alasan prajurit KRI Sutedi Senoputra-378 menembak kapal nelayan di perairan Palembang, Sabtu (12/7).

"TNI AL membenarkan penembakan dengan peluru karet terhadap nelayan di perairan wilayah Tanjung Jabung, Palembang, seperti yang ramai diberitakan. Hal itu didasari atas dugaan aktivitas ilegal dan saat tim patroli ingin memeriksa, nelayan tersebut melarikan diri," ungkap Tunggul, saat dikonfirmasi Indonesia Defense Magazine di Jakarta, Selasa (15/7).

Kronologi berawal saat KRI Sutedi berpatroli di sekitar perairan tenggara Tanjung Jabung. Kemudian, radar dan sistem identifikasi otomatis (AIS) pada KRI Sutedi mendapatkan kontak TB Karya Pacific 2229 yang membawa kapal tongkang TK Pacific Star 8615 dengan muatan batubara.

"Terlihat kontak tiga kapal nelayan kecil sedang menambatkan tali di buritan tongkang sehingga diduga adanya tindak ilegal," jelas Tunggul.

Baca Juga: Kowal dan Angkatan Laut Chili Gelar Diskusi di Kapal Layar Esmeralda

KRI Sutedi pun mengejar dua kapal nelayan yang berupaya melarikan diri, yaitu KM Aqshal dan KM Aqshal 2. Kemudian, tim patroli memerintahkan kedua kapal nelayan itu untuk merapat ke KRI Sutedi.

"Namun, KM Aqshal menambah kecepatan dan mengarahkan haluannya untuk menabrak KRI Sutedi," lanjut dia.

KRI Sutedi kemudian melepaskan tembakan peringatan pertama menggunakan peluru hampa, tetapi saat itu KM Aqshal tidak mengindahkan instruksi tim patroli, sementara pada saat yang bersamaan, KM Aqshal 2 terus melarikan diri menuju daratan.

"KRI Sutedi menerjunkan tim VBSS 1 untuk pengejaran, penangkapan, dan penyelidikan ke KM Aqshal 2 dengan melepaskan tembakan peringatan. Namun, KM Aqshal 2 mencoba untuk menabrakkan kapalnya," ujar Tunggul.

Baca Juga: Daftar 11 Jenderal TNI AD yang Naik Pangkat Bintang 2

Lalu, tim VBSS 1 melepaskan tembakan dengan lima butir karet ke arah KM Aqshal 2, tetapi kapal yang mengangkut lima awak itu tetap menambah kecepatan ke arah daratan dengan kondisi satu orang terkena peluru karet.

Sementara itu tim VBSS 2 dengan sigap mengambil langkah untuk mengejar dan menangkap kapal terdekat, yaitu KM Aqshal dengan melepaskan 15 butir peluru karet.

"KM Aqshal berhasil diamankan dan dikawal merapat ke lambung kanan KRI Sutedi. Tiga dari empat awak di kapal itu terkena peluru karet dan mengalami luka ringan," sambung dia.

Sebelumnya di media sosial beredar video detik-detik peristiwa di mana kapal TNI AL diduga menembak nelayan. Berdasarkan narasi video, kejadian tersebut terjadi di perairan laut Birik, dekat Sungai Sembilang, Kecamatan Banyuasin III, pada Sabtu (12/7). Dalam video juga terlihat seorang korban dibawa oleh warga menuju tempat perawatan medis. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.