TNI AL Beberkan Alasan Strategi Tempur di Timur RI Lebih Rumit

Jakarta, IDM – TNI AL membedah alasan teknis di balik rumitnya penjagaan keamanan di wilayah timur Indonesia. Perbedaan kedalaman laut yang sangat ekstrem memaksa TNI AL untuk membagi strategi tempur antara wilayah barat dan timur.
Kepala Pusat Pengkajian Maritim (Kapusjianmar) TNI AL Laksma Salim menyebut karakteristik laut Indonesia terbelah oleh garis Wallace dan Weber.
Baca Juga: Kodam Cenderawasih dan Pemkot Jayapura Gelar Karya Bakti Bersihkan Pasar Youtefa
Sisi barat Indonesia atau Paparan Sunda memiliki laut yang cenderung dangkal. Kondisi geografis ini membuat pemantauan terhadap ancaman asing menjadi lebih sederhana. Namun, sisi timur Indonesia menyimpan tantangan yang jauh lebih berat karena memiliki kedalaman laut yang mencapai 2.000 hingga 3.000 meter.
Kedalaman ekstrem di wilayah timur, seperti perairan Wetar (Maluku Barat Daya), memberikan ruang gerak yang sangat luas bagi kapal selam asing. Kapal selam musuh bisa menyelinap di bawah permukaan laut tanpa perlu muncul ke permukaan air sama sekali.
"Kedalaman 3.000 meter ini membuat strategi tempur di timur jauh lebih rumit. Kita membutuhkan aset dan sensor yang jauh lebih canggih untuk memantau laut dalam," ujar Salim dalam diskusi yang digelar Semar Sentinel di Jakarta, baru-baru ini.
Salim menegaskan, perbedaan geografi ini mengubah cara TNI AL menjalankan anti-submarine warfare atau peperangan anti-kapal selam. Wilayah timur memerlukan teknologi deteksi yang mampu menjangkau dasar samudera yang sangat gelap dan dalam.
Karena karakteristik yang unik ini, TNI AL tidak bisa menggunakan jenis kapal atau alat deteksi yang sama untuk seluruh wilayah Indonesia. Wilayah timur memerlukan perangkat pengawas bawah air khusus atau sub-surface surveillance yang memiliki daya jangkau sonar sangat jauh.
TNI AL kini fokus menyesuaikan penempatan armada berdasarkan kebutuhan geografis tersebut. Indonesia harus memastikan setiap titik, baik di laut dangkal maupun laut dalam, memiliki sistem pertahanan yang tepat untuk menjaga kedaulatan maritim nasional. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































