TNI AD: Ulah Oknum Jangan Tutupi Pengabdian Prajurit

Jakarta, IDM – Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Donny Pramono meminta publik untuk objektif menanggapi kasus viral terkait pelanggaran oknum prajurit.
Menurut Donny, jumlah pelanggaran terbilang sangat kecil dibandingkan total pengabdian prajurit setiap harinya.
Baca Juga: Denmatra 3 Pasgat Kerahkan Personel Bantu Evakuasi Korban Ledakan Bom Sisa Perang Dunia II di Biak
"Banyak tugas kemanusiaan tidak terekspos media. Jangan sampai ribuan pengabdian prajurit tertutupi hanya oleh tindakan segelintir oknum," kata Donny kepada wartawan di Jakarta beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut Donny menjelaskan bahwa TNI AD tidak membela pelanggaran, tidak defensif secara berlebihan dari tindakan yang sudah dilakukan.
"Kami berusaha menunjukkan ketegasan institusi, namun juga mengajak publik untuk berpikir objektif," kata Donny.
Ia pun memastikan evaluasi internal tetap dilakukan, di antaranya melalui pembinaan personel, penguatan mental ideologi, pengawasan internal, dan literasi digital prajurit.
"Karena tidak hanya di TNI, setiap prajurit menjadi bahan evaluasi bagi institusi untuk terus memperbaiki diri," tutup Donny.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































