TNI AD Seleksi Calon Dosen, Mengajar di Institusi Militer Australia

Jakarta, IDM – TNI Angkatan Darat melalui Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (Seskoad) tengah menyeleksi calon dosen untuk mengajar di lembaga pendidikan militer dan pertahanan bergengsi Australian Command and Staff College (ACSC).
Dilansir dari keterangan Penseskoad, Sabtu (11/7), dijelaskan kegiatan ini merupakan program pertukaran dosen yang dipimpin oleh Kakordos Seskoad, Brigjen TNI Gunawan Wijaya yang bertindak sebagai Ketua Tim Seleksi.
Baca Juga: TNI AU Unjuk Kapabilitas SAR yang Teruji di Berbagai Misi pada IISAR 2026
Pada tahapan seleksi kali ini, para peserta mengikuti paparan dan CMI sebagai bagian dari proses penilaian.
"Seleksi dilaksanakan untuk memperoleh calon dosen yang memiliki kompetensi, wawasan, kemampuan komunikasi, serta kesiapan mewakili TNI Angkatan Darat dalam program pertukaran dosen di tingkat internasional," kata Gunawan.
Baca Juga: 35 Kolonel TNI AD Pecah Bintang, Ini Daftarnya
Ia berharap melalui proses seleksi akan terpilih dosen terbaik yang mampu mengembangkan kerja sama pendidikan, memperluas wawasan akademik, serta membawa nama baik TNI Angkatan Darat di forum pendidikan militer internasional.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































