TNI AD Jinakkan Bom di Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin

Jakarta, IDM – TNI AD dari Kodam VI/Mulawarman (Mlw) menurunkan satuan Detasemen Zeni tempur 8/Gawi Manuntung (GM) untuk menjinakkan bom di Bandara Internasional Syamsuddin Noor Banjarmasin.
Dilansir dari keterangan Penpusziad, Senin (7/7) penurunan pasukan ini adalah bagian dari latihan penanggulangan ancaman teroris berupa bom di pesawat komersil Tipe ATR-72 yang berkapasitas 78 orang penumpang.
Baca Juga: Mulai 2026, Indonesia-Thailand Adakan Pertukaran Kadet Kedokteran Militer
"Satuan Detasemen Zeni tempur 8/GM Kodam VI/Mlw berkolaborasi dengan entitas terkait yaitu Satuan Korem 101/Antasari, Lanud Syamsuddin Noor, dan pihak Angkasapura," bunyi keterangan yang dirilis Penpusziad.

Dijelaskan pula latihan tersebut bertujuan sebagai tindakan preventif guna mencegah terjadinya ancaman teror bom terhadap objek vital maupun transportasi publik khususnya pesawat udara.
Baca Juga: TNI Tidak akan Tinggal Diam Jika Situs Bersejarah Dirusak
Bersamaan dengan itu, diluncurkan juga alat deteksi jenis metal detector, mine detector dan under vehicle surveillance , serta alat robotic piap gryf guna melakukan pencegahan terhadap ancaman teror bom yang disimulasikan. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































