TNI AD Akan Evaluasi Pengamanan Siber

Jakarta, IDM - Pasca diduga mengalami peretasan sejak 25 Agustus lalu kini akun twitter milik TNI Angkatan Darat (TNI AD) kembali normal terhitung mulai hari Selasa siang tanggal 13 September 2022.
Dalam keterangan resminya diterima redaksi, Selasa, TNI AD mengapresiasi pihak Twitter Indonesia yang telah membantu pemulihan akun Twitter TNI AD sehingga bisa beroperasi kembali seperti sedia kala dan telah membantu mengamankan akun ini dari aktivitas ilegal.
Ke depan TNI AD berusaha untuk terus mengevaluasi sistem pengamanan Siber yang dimiliki dan akan diambil langkah-langkah preventif yang dapat mengeliminir gangguan serangan Siber dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab terhadap sistem Informasi maupun Medsos yang dimiliki TNI AD.
Saat dugaan diretas akun TNI AD tersebut didominasi oleh promosi situs Pudgypeguins.com. Konten tentang aktivitas TNI terakhir diunggah pada 25 Agustus pukul 18.29 WIB.
Saat itu akun TNI AD mengunggah poster webinar nasional dengan materi Tinjauan Perang Rusia - Ukraina dan Implikasinya terhadap Perkembangan Satkav ke Depan dan webinar Lesson Learn Peperangan Abad 20-21 dihadapkan pada Hanneg dan Peran Satkav TNI AD ke Depan. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































