Tak Perlu ke Italia, Teknisi RI Bakal Bisa Bongkar-Pasang Mesin Kapal PPA Sendiri

Jakarta, IDM – Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI terus memacu kemandirian industri pertahanan (inhan) dalam negeri. Caranya dengan memaksimalkan program imbal balik (offset) dari setiap pembelian alutsista asing.
Komitmen ini tertuang dalam proyek pengadaan kapal fregat Pattugliatore Polivalente d'Altura (PPA) dari galangan Fincantieri, Italia. Lewat skema tersebut, Kemhan memastikan teknisi Indonesia bakal bisa merawat hingga membongkar-pasang mesin kapal perang itu sendiri tanpa perlu bergantung pada asing.
Kemampuan harwat (pemeliharaan dan perawatan) mandiri ini disiapkan khusus untuk menyokong jajaran kapal perang teranyar milik TNI AL. Khususnya untuk menjaga kesiapan mesin dua kapal PPA terbaru, yakni KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321.
Baca Juga: Kostrad Tingkatkan Kemampuan Personel Hadapi Ancaman Ruang Siber
Pemerintah menunjuk PT Dieselindo Utama Nusa sebagai mitra lokal yang menerima langsung manfaat program imbal balik tersebut. Nilai kemanfaatan program ini menembus angka sekitar 30 juta Euro atau setara Rp530 miliar.
Alokasinya mengalir dalam beberapa bentuk nyata, mulai dari pelatihan intensif bagi teknisi lokal, penyediaan alat kerja khusus, hingga penyerahan replika mesin (mock-up engine) Isotta Fraschini Motori sebagai media pembelajaran mandiri.
Sebelumnya, sejumlah teknisi dari PT Dieselindo Utama Nusa sudah merampungkan program pelatihan khusus selama dua minggu. Mereka belajar langsung di pangkalan Fincantieri, Italia.
Direktur Jenderal Potensi Pertahanan (Dirjen Pothan) Kemhan Laksda TNI Sri Yanto menegaskan, penyerahan ini merupakan komitmen nyata pemerintah untuk menghidupkan inhan domestik. Kebijakan ini juga menjadi mandat langsung dari regulasi pertahanan negara.
"Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi kewajiban offset seperti yang diamanahkan dalam undang-undang," ujar Sri Yanto saat ditemui di Tangerang, Rabu (24/6).
Sri Yanto menambahkan, skema ini menjadi bukti, Kemhan tidak sekadar melakukan pengadaan alutsista. "Dan kegiatan ini merupakan komitmen kami Kementerian Pertahanan dalam menjalani tugas memajukan industri pertahanan," imbuhnya.
Alur pengalihan teknologi (transfer of knowledge) ini menjadi modal utama agar industri lokal bisa menguasai teknologi sistem penggerak kapal perang generasi terbaru. Kemhan sengaja menyiapkan ekosistem pemeliharaan ini sejak dini agar industri lokal siap sedia saat kapal-kapal tersebut mulai memasuki siklus perawatan berkala.
Baca Juga: TNI AD Kukuhkan 1.347 Prajurit Baru Korps Komunikasi dan Elektronika
Meski pembekalan teori dan simulasi awal sudah selesai, praktik perawatan skala medium hingga berat di dalam negeri memang belum berjalan. Sebab, dua kapal PPA itu berstatus unit baru dengan jam operasional yang masih sangat rendah.
Melalui strategi jangka panjang ini, Sri Yanto berharap Dieselindo bisa mengambil peran vital bagi jajaran armada laut Indonesia. Dia memproyeksikan industri lokal ini sebagai basis perawatan mandiri yang andal di masa depan.
"Yang nantinya akan menjadi salah satu dokternya kapal kita. Harapannya seperti itu dengan kemampuan yang diberikan," pungkas Sri Yanto.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































