Syarat jadi Prajurit Infanteri: Tempuh 110 Km di Latihan Yuddhawastu Pramuka

Jakarta, IDM – Jalan panjang menuju baret hijau Korps Infanteri TNI AD bukanlah hal yang mudah. Demi membuktikan ketangguhan fisik dan mentalnya, para calon prajurit Infanteri harus melintasi rute ekstrem sejauh 110 kilometer.
Dilansir keterangan Penkodam XV/Pattimura, Jumat (25/9), jarak ini ditempuh dalam Latihan Yuddhawastu Pramuka Dikjurbaif Abit Dikmaba Infanteri dan Dikjurtaif Abit Dikmata Infanteri TNI AD Gelombang II TA 2026, bertempat di Lapangan Tri Daya Yudha, Mako Rindam XV/Pattimura, Ambon. Latihan dibuka langsung Danrindam XV/Pattimura, Brigjen TNI Irfan Amir.
Baca Juga: Perkuat Operasi Amfibi, 12 Kendaraan Tempur AAV Marinir Tiba di Jakarta
Pada kesempatan tersebut, Amir menjelaskan Latihan Yuddhawastu Pramuka merupakan salah satu tahapan penting dalam pembentukan prajurit Infanteri yang tidak hanya dituntut memiliki kemampuan fisik dan keterampilan tempur, tetapi juga mental, ketangguhan, loyalitas serta jiwa korsa yang kuat.
“Laksanakan latihan ini dengan sungguh-sungguh, ikuti setiap instruksi pelatih dan jangan pernah menganggap ringan setiap tahapan yang diberikan. Jadikan setiap kegiatan sebagai proses untuk menempa diri menjadi prajurit Infanteri yang tangguh, profesional, disiplin dan siap melaksanakan tugas,” kata Amir.
Baca Juga: KSAL Terima Kunjungan Irjen AL Prancis, Bahas Kerja Sama Pertahanan
Latihan ini dilaksanakan selama 16 hari dan terbagi dalam tiga tahap. Dalam pelaksanaannya, para calon prajurit infanteri akan menghadapi berbagai rangkaian kegiatan yang dirancang untuk menguji serta meningkatkan kemampuan dan ketahanan prajurit, termasuk pelaksanaan longmars sejauh kurang lebih 110 kilometer sebagai salah satu rangkaian latihan sebelum memasuki pembaretan Korps Infanteri.
Biasanya dalam kegiatan Latihan Yuddhawastu Pramuka (longmars 110 km dan latihan tempur), prajurit membawa perengkapan yang dikenal sebagai Beban Tempur / Ransel Rungkit. Total berat perlengkapan yang digendong biasanya berkisar antara 15 hingga 25 kilogram terdiri dari Senjata, PDL, perlengkapan Bivak (perlindungan dan tidur), perlengkapan logistik dan masak, perlengkapan perorangan dan navigasi.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































