STTAL Terima Kunjungan Komandan Pussansiad

Jakarta, IDM - Komandan Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) Laksamana Pertama TNI Mukhlis, menerima kunjungan Komandan Pusat Sandi dan Siber Angkatan Darat (Pussansiad) Brigjen TNI Iroth Sonny, Surabaya, Kamis (19/1).
Dikutip dari laman STTAL, Jumat (20/1), kunjungan kerja Pussansiad beserta staf tersebut adalah dalam rangka studi banding penerapan teknologi siber di STTAL.
Tak hanya itu, kunjungan kerja juga bertujuan membahas penjajakan kerja sama pengiriman Pamen, Pama, dan Bintara TNI AD di Pussansiad untuk dapat menempuh pendidikan D3, S1, S2 di STTAL.
Bahkan, Pussansiad bersedia memfasilitasi jika STTAL akan melaksanakan program sosialisasi penerimaan mahasiswa baru D3, S1, dan S2 2023 di Mabes TNI AD Jakarta.
Baca: Perkuat Pertahanan Udara, TNI AL Tambah Empat Pesawat Baru
Di kesempatan yang sama, Mukhlis pun menyambut dengan terbuka dan siap mendukung kerja sama yang akan dilaksanakan demi kemajuan, baik STTAL maupun Pussansiad.
Kegiatan ini juga sejalan dengan program prioritas Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali untuk tetap menjaga soliditas di lingkungan TNI serta memperkokoh sinergitas dalam pelaksanaan tugas. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































