Spesifikasi BTR-4 Marinir, Disiapkan Jadi Ikon Utama Upacara HUT TNI di Monas

Jakarta, IDM – BTR-4 milik Korps Marinir akan menjadi salah satu sorotan utama dalam upacara HUT ke-80 TNI di Monumen Nasional (Monas) pada 5 Oktober.
Kendaraan tempur amfibi asal Ukraina ini mengikuti gladi rangkaian upacara di Monas, Sabtu (27/9) bersama prajurit Batalyon Kapa (Yonkapa) 1 Marinir. Tidak sekadar "mejeng" BTR-4 diposisikan sebagai ikon modernisasi alutsista TNI AL sekaligus latar visual utama dalam formasi upacara.
Komandan Yonkapa 1 Marinir Mayor (Mar) Bayhaky C. Chipta, menyebutkan keterlibatan kendaraan tempur BTR-4 di perayaan HUT ke-80 TNI menjadi bagian dari upaya memperlihatkan profesionalisme dan kesiapan pasukan dalam mendukung tugas pokok TNI.
Baca Juga: Momen Presiden Prabowo Didampingi Panglima TNI Tinjau Program KKRI di Lanud Halim Perdanakusuma
“Tampilkan yang terbaik dalam setiap rangkaian kegiatan, karena ini bukan hanya membawa nama satuan, tetapi juga nama besar Korps Marinir dan TNI AL,” kata Bayhaky saat memberikan arahan kepada prajurit, dikutip dari Pasmar 1, Senin (29/9).
Pengadaan Perdana Mulai 2022
Korps Marinir menerima lima unit awal BTR-4M pada 2022 melalui kontrak pengadaan dengan Ukraina, yang diproyeksikan menjadi tulang punggung kendaraan tempur amfibi roda ban setelah BMP-3F, sekaligus mendukung taktik mobilitas cepat di darat dan laut.
Satuan lapis baja Marinir kemudian mengintegrasikannya ke unsur Pasmar untuk operasi amfibi, pengamanan wilayah pesisir, dan dukungan tugas TNI di dalam negeri.
Baca Juga: Dalam Sepekan TNI Sita dan Musnahkan Senpi hingga Narkoba, Ini Jumlahnya
Spesifikasi Teknis BTR-4 Marinir
BTR-4 milik Korps Marinir memiliki desain modern dengan konfigurasi roda 8x8 dan bobot tempur sekitar 20 ton. Kendaraan ini berkapasitas tiga kru, terdiri dari pengemudi, penembak, dan komandan, serta mampu mengangkut hingga tujuh prajurit infanteri di bagian belakang. Secara dimensi, panjangnya mencapai sekitar 7,6 meter dengan lebar hampir 3 meter dan tinggi kurang lebih 3,2 meter, termasuk kubah senjata.
Untuk mendukung mobilitas tempur, BTR-4 dibekali mesin Deutz BF6M1015CP berkekuatan 450 tenaga kuda. Daya dorong tersebut memungkinkan kendaraan ini melaju hingga 110 kilometer per jam di darat dan sekitar 10 kilometer per jam di air berkat dukungan sistem waterjet.
Dengan jarak jelajah mencapai 700 kilometer, kendaraan tempur ini dirancang untuk operasi jarak menengah hingga jauh di berbagai medan.
Baca Juga: Pangdam XVII/Cenderawasih Tekankan Nasionalisme dan Kepemimpinan ke Siswa di Jayapura
Dari sisi persenjataan, BTR-4 mengandalkan meriam otomatis ZTM-1 kaliber 30 milimeter sebagai senjata utama. Di sisi sampingnya terpasang senapan mesin koaksial kaliber 7,62 milimeter, sementara opsi peluncur rudal anti-tank Barrier serta pelontar granat otomatis kaliber 30 milimeter dapat dipasangkan sesuai kebutuhan tugas.
Perlindungan awak dan pasukan didukung lapisan baja modular yang mengacu pada standar STANAG 4569 level 2 hingga 3, memberikan proteksi terhadap tembakan senjata ringan dan serpihan artileri.
Selain itu, kendaraan ini dilengkapi sistem perlindungan NBC (nuklir, biologi, dan kimia), sistem kendali tembak digital, serta kamera penglihatan siang dan malam. Dua waterjet di buritan memungkinkan BTR-4 melaksanakan operasi amfibi tanpa modifikasi tambahan. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































