Soroti Siginifikasi Satelit dan Antariksa, NASPCI Berkolaborasi dengan SAIAC dan BRIN Gelar Diplomatic Workshop

Jakarta, IDM – National Air and Space Power Centre Indonesia (NASPCI) berkolaborasi dengan S. ASEAN International Advocacy & Consultancy (SAIAC) dan Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) menggelar lokakarya diplomatik (diplomatic workshop) di Gedung NASPCI, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (25/4).
Mengawali sambutannya, Ketua NASPCI Marsma TNI Penny Radjendra mengatakan, lokakarya diplomatik ini digelar sebagai saran diskusi untuk membahas peran penting dan signifikansi satelit serta luar angkasa.
Pasalnya, ruang angkasa dan satelit disebut Penny dapat dimanfaatkan, baik untuk kebutuhan militer maupun nonmiliter.
Baca Juga: TNI AD dan BKKBN Kolaborasi Atasi Stunting Lewat Air Bersih
"Kini semakin jelas bahwa ruang angkasa bukan hanya sekadar eksplorasi nyata, namun juga wilayah yang memiliki kepentingan strategis. Pertemuan serta pembicaraan secara berkala dan berkelanjutan menjadi hal penting untuk memastikan bahwa domain luar angkasa tetap aman dan bermanfaat bagi seluruh umat manusia," jelasnya.
"Berbicara mengenai satelit dan antariksa, salah satu yang tengah dikembangkan di Indonesia saat ini adalah konstelasi satelit observasi nasional dengan konsep yang mengacu pada kemampuan suatu negara dalam melacak dan mengidentifikasi objek-objek di luar angkasa," sambung Penny.

Sementara itu, CEO SAIAC Shaanti Shamdasani menyoroti bagaimana Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan pengembangan dan pemanfaatan teknologi satelit untuk mendukung digitalisasi.
Baca Juga: Korps Marinir Tinjau Alat Simulasi Tempur Canggih untuk Prajurit
"Melalui lokakarya diplomatik ini, SAIAC, NASPCI, dan BRIN sebagai koalisi lembaga pemikir memiliki kepentingan bersama untuk memberikan arahan strategis nasional dan teknologi terkini kepada pemerintah di bidang antariksa, satelit, telekomunikasi, dan keamanan siber," ucap Shaanti.
Turut hadir pada acara tersebut yakni Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsekal Pertama TNI Destianto Nugroho Utomo dan Asisten Potensi Dirgantara Kepala Staf Komando Operasi Udara Nasional (Aspotdirga Kaskoopsudnas) Marsma TNI Fajar Adriyanto.
Selain itu, acara yang sama turut dihadiri oleh sejumlah duta besar dan perwakilan negara sahabat, pakar, hingga pelaku industri di sektor satelit dan antariksa. Mereka adalah Dubes Chili untuk Indonesia; Duta Besar Thailand untuk Indonesia; Atase Pertahanan Italia untuk Indonesia Captain (Navy); First Secretary Kedutaan Besar China untuk Indonesia; First Secretary Kedutaan Besar Afrika Selatan untuk Indonesia; Deputy Head of Mission Kedubes Maroko untuk Indonesia; Second Secretary Kedutaan Besar Rusia untuk Indonesia; Chargé d affaires Kedubes Sudan untuk Indonesia; dan perwakilan dari Kedubes Belanda, Kedubes Malaysia, Kedubes India, Kedubes Ethiopia.
Selanjutnya, perwakilan industri dan pakar yang hadir di antaranya perwakilan Lockheed Martin Indonesia, Airbus Indonesia Nusantara; Rolls Royce; Japan External Trade Organization (JETO); Thales Indonesia; Kacific; Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Prasetiya Mulya. (yas)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































