HANKAM

Soal Kematian Prada Lucky, TNI AD: Saksi Jadi CCTV Paling Mahal

Kadispenad Brigjen TNI Wahyu Yudhayana
Kadispenad Brigjen TNI Wahyu Yudhayana menerangkan tidak ada alat yang digunakan para terduga pelaku dalam menganiaya Prada Lucky Chepril Saputra Namo. (Foto: Dok. Dispenad)

Jakarta, IDM – Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen Inf Wahyu Yudhayana, menerangkan tidak ada alat yang digunakan para terduga pelaku dalam menganiaya Prada Lucky Chepril Saputra Namo.

Adapun Prada Lucky merupakan seorang prajurit TNI AD berusia 23 tahun yang bertugas di Batalyon TP 834 Wakanga Mere, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur dan diduga tewas dianiaya oleh seniornya pada Rabu (6/8).

"Tidak ada alat ya, lebih kepada menggunakan anggota badan tangan ya," ungkap Wahyu kepada wartawan di Gedung Mabes TNI AD, Jakarta, yang dikutip Selasa (12/8).

Baca Juga: Helikopter Panther dan Bolkow TNI AL Uji Kemampuan Evakuasi dan Operasi Laut di Bintan

Wahyu juga menegaskan tidak ada barang bukti yang diamankan dalam perkara tersebut.

"(Barang bukti) Tidak ada. Artinya tidak ada penggunaan alat tertentu itu tidak ada," tutur jenderal bintang satu ini.

Wahyu menjelaskan di lokasi penganiayaan juga tidak ada kamera Closed Circuit Television (CCTV). Namun, terdapat saksi di lokasi kejadian.

"(CCTV) Ada saksi. Kan sudah saya bilang tadi, ada juga beberapa personel yang survive. Itu CCTV yang paling mahal," ungkap Wahyu.

Baca Juga: Respons Darurat Maritim Jadi Fokus TNI AL di Program Kursus Angkatan Laut Thailand

Diketahui, Prada Lucky Saputra Namo dinyatakan meninggal dunia pada Rabu (6/8) setelah dirawat secara intensif di ICU RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo.

Prada Lucky meninggal dunia diduga akibat dianiaya oleh sejumlah seniornya. Keluarga Prada Lucky pun menuntut agar para pelaku dihukum sesuai dengan perbuatan yang dilakukan atas Prada Lucky.

“Kami ingin agar para pelakunya dipecat dari TNI dan dihukum mati," ujar Lusi Namo Kakak Kandung Prada Lucky. (Ykb)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.