HANKAM

Skadron Udara 33: Kekuatan Angkut Strategis TNI AU di Timur Indonesia

Pesawat C-130 Hercules A-1338
Penerbang menyentuh bagian depan Pesawat C-130 Hercules A-1338 yang terparkir di hanggar Skadron Udara 33, Makassar. (IDM/Septo Kun Wijaya)

Jakarta, IDM – Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau dan medan geografis yang sangat beragam, memiliki tantangan besar dalam hal mobilitas militer serta distribusi logistik. Selain itu, jarak antarpulau yang luas, infrastruktur darat yang belum merata, hingga cuaca yang kerap berubah membuat respons cepat terhadap potensi ancaman dan situasi darurat sulit dilakukan apabila kekuatan pertahanan hanya terkonsentrasi di satu kawasan saja. Karena itu, penempatan satuan TNI secara merata di wilayah barat, tengah, dan timur Indonesia bukan sekadar pilihan organisasi, melainkan prasyarat agar operasi militer, misi kemanusiaan, dan pengiriman logistic dapat dilaksanakan secara efektif di seluruh Nusantara.

Untuk mengatasi kompleksitas serta tantangan tersebut, TNI Angkatan Udara kemudian membentuk satuan dengan kemampuan angkut berat dan mobilitas udara, yaitu Skadron Udara 33. Menilik sejarahnya, Skadron Udara 33 diresmikan pada 14 Juni 2019 oleh Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) yang menjabat saat itu, Marsekal TNI Yuyu Sutisna. Berbasis di Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, Skadron Udara 33 berada di bawah pembinaan operasional Wing Udara 5.

“Tujuan pembangunan Skadron (Udara) 33 ini untuk pemerataan kekuatan TNI dari barat, tengah, dan timur Indonesia. Harapan saya, hadirnya skadron ini agar TNI bisa melaksanakan operasi secara maksimal,” ungkap Yuyu. Kehadiran skadron ini sekaligus menjadi jawaban konkret atas kebutuhan akan kekuatan udara yang cepat, adaptif, dan merata demi menjaga kedaulatan serta keamanan wilayah Indonesia.

Baca Juga: Menerjunkan Tim Kesehatan dan Dapur Lapangan

Selain memperkuat kemampuan transportasi udara, kehadiran Skadron Udara 33 turut mendukung interoperabilitas dengan TNI Angkatan Darat (TNI AD) dan TNI Angkatan Laut (TNI AL). “Untuk mendukung pergerakan mereka, makanya dibutuhkan satu skadron udara untuk percepatan pergerakan mereka jika dibutuhkan,” pungkas Yuyu.

Pada tahap awal operasional, Skadron Udara 33 diperkuat dengan empat pesawat C-130 Hercules yang sebelumnya ditempatkan di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang dan Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Dengan kekuatan tersebut, Skadron Udara 33 mulai menjalankan peran strategisnya sebagai tulang punggung mobilitas udara di kawasan timur Indonesia.

Misi Kemanusiaan

Kehadiran Skadron Udara 33 tidak hanya memperkuat postur pertahanan udara di timur Indonesia, tetapi juga memastikan respons cepat dalam operasi kemanusiaan atau operasi militer selain perang (OMSP) berjalan dengan efektif. Meski masih tergolong satuan muda, tetapi rekam jejak tugas satuan ini dalam misi kemanusiaan tidak bias dipandang sebelah mata. Hal tersebut terbukti ketika Skadron Udara 33 mendapat kepercayaan untuk menjalankan misi kemanusiaan berskala internasional pada 2025.

Bencana gempa bumi berkekuatan 7,7 skala richter yang mengguncang Myanmar pada Maret 2025 membuat Indonesia mengulurkan tangan untuk memberi sejumlah bantuan. Sebagai kepanjangan tangan dari pemerintah Indonesia, TNI Angkatan Udara (TNI AU) melalui Skadron Udara 33 bergerak cepat dengan menyiapkan satu unit C-130 Hercules. Pesawat dengan nomor registrasi A-1331 tersebut bertugas dengan 21 kru untuk membawa bantuan kemanusiaan seberat 10.446 kilogram bagi korban gempa bumi di Myanmar.

Pesawat C-130 Hercules
Pesawat C-130 Hercules TNI Angkatan Udara yang membawa bantuan untuk korban gempa Myanmar, sukses mendarat di Bandara Naypyidaw, Myanmar (1/4). (Foto: Dok. TNI-AU.MIL.ID)

Puluhan ribu bantuan itu terdiri dari satu unit truk dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), 68 koli tenda pengungsi dari Kementerian Pertahanan (Kemhan), serta anjing pelacak dari Direktorat Kepolisian Satwa (Dipolsatwa).

Baca Juga: Evakuasi Terstruktur: Selamatkan Dokumen Berharga hingga Barang Pecah Belah

Pesawat lepas landas dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta pada 31 Maret 2025 dengan menempuh rute penerbangan Sultan Iskandar Muda, Aceh sebelum akhirnya mendarat di Bandara Naypyidaw, Myanmar. Misi kemanusiaan tersebut dipimpin langsung oleh Letkol Pnb A.M. Averroes, yang saat itu menjabat sebagai Komandan Skadron Udara 33.

Di tingkat nasional, personel Skadron Udara 33 juga pernah dilibatkan untuk mendukung upaya pemerintah dalam menanggulangi pandemic COVID-19. Pada April 2020, pesawat C-130 Hercules bernomor registrasi A-1330 mengangkut sebanyak 3.000 APD dan 4.000 masker yang merupakan bantuan dari pemerintah pusat menuju Lanud Sam Ratulangi, Manado.

Terbaru, pesawat C-130 dengan nomor registrasi A-1333 mengangkut sebanyak 14 ton bantuan kemanusiaan yang merupakan wujud solidaritas dan kolaborasi dari masyarakat Kota Palembang serta sejumlah instansi terkait bagi masyarakat yang terdampak bencana alam di wilayah Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Pesawat lepas landas dari dari Lanud Sri Mulyono Herlambang Palembang pada awal Desember 2025 untuk membawa bantuan-bantuan tersebut.

Dengan keterlibatan itu, Skadron Udara 33 menjadi bukti bahwa kemampuan angkut udara bukan hanya sekadar faktor pertahanan, tetapi juga instrumen diplomasi kemanusiaan dan wujud solidaritas di tingkat nasional maupun global.

Kemampuan Night Vision Goggles

TNI AU memiliki tiga skadron pengawak Hercules, yaitu Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta; Skadron Udara 32 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur; dan Skadron Udara 33 Lanud Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan. Meski sama-sama menjadi skadron angkut berat, namun ketiganya memiliki ‘ciri khas’ masing-masing. Misalnya, Skadron Udara 31 dengan pesawat C-130J Super Hercules, Skadron Udara 32 dengan kemampuan tanker, dan Skadron Udara 33 dengan kemampuan Night Vision Goggles (NVG).

A.M. Averroes A.M.
Letnan Kolonel Pnb A.M. Averroes A.M. (IDM/Septo Kun Wijaya)

Hal tersebut diungkap oleh Letkol Pnb A.M. Averroes kepada sejumlah awak media dalam kegiatan bertajuk Outbound Media Dirgantara 2025 yang digelar beberapa waktu lalu. “Secara tugas umum itu sama, melaksanakan operasi militer perang dan (operasi militer) selain perang, Saat ini, kita tahu di Skadron Udara 31 punya pesawat Super Hercules tipe J, tentunya dengan kemampuan sendiri. Di Skadron Udara 32, mereka memiliki pesawat tanker yang berfungsi untuk melaksanakan air refueling dengan pesawat tempur. Dan yang Skadron Udara 33 ini memiliki ke- mampuan NVG atau Night Vision Goggles,” jelas Averroes, yang saat ditemui masih menjabat sebagai Komandan Skadron Udara 33.

Baca Juga: Aksi Divisi Infanteri 2 Kostrad: Langkah Berani Prajurit Membangun Asa di Tengah Erupsi Semeru

Dalam dunia operasi udara, visibilitas merupakan faktor krusial yang menentukan keselamatan sekaligus efektivitas misi. Karena itu, Night Vision Goggles (NVG) menjadi perangkat vital dalam meningkatkan kemampuan terbang malam dan fleksibilitas operasi. Teknologi tersebut memungkinkan penerbang melakukan navigasi, terbang, hingga mendarat dengan aman dalam kondisi minim cahaya.

Penerbang Skadron Udara 33 membuktikan bahwa NVG terbukti penting ketika mereka menjalankan misi darurat di Bali, saat wilayah terdampak gempa mengalami pemadaman listrik menyeluruh. “Kami stand by 24 jam ketika terjadi gempa. Dalam kondisi gelap 100%, tanpa satu pun sumber cahaya, kami mampu melaksanakan penerbangan berkat kemampuan NVG,” jelas Letkol Pnb A.M. Averroes.

Dengan NVG, Skadron Udara 33 membuktikan kemampuannya beroperasi tanpa batas waktu, menjadikan mereka salah satu elemen mobilitas udara paling adaptif di kawasan timur Indonesia.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.