Situasi USTJ Memanas, Kodam Cenderawasih Imbau Masyarakat Jayapura tak Terprovokasi

Jakarta, IDM – Aksi mimbar bebas mahasiswa di Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ), Padang Bulan, Distrik Heram, Jayapura, Rabu (30/9), memanas.
Kodam XVII/Cenderawasih pun mengimbau masyarakat tidak terprovokasi dan bersama-sama menjaga situasi tetap kondusif.
Aksi yang diikuti sekitar 100 mahasiswa itu awalnya berlangsung di Halaman Hijau USTJ dengan agenda membahas Perjanjian Roma dan persoalan Papua.
Situasi berubah ketika sebagian massa mendatangi tiang bendera utama kampus dan menaikkan bendera bermotif Bintang Kejora.
Sejumlah spanduk juga dibentangkan berisi tuntutan dan pernyataan mengenai penentuan nasib sendiri Papua, Perjanjian Roma serta permintaan intervensi lembaga internasional.
Selain itu, terdapat sejumlah bendera dengan motif Bintang Kejora, RMS Maluku dan Bulan Bintang Aceh.
Baca Juga: Jadi “Perisai Hidup” Presiden, 79 Pejabat TNI-Polri dan Kementerian Terima Brevet Setia Waspada
Ketegangan meningkat usai aparat keamanan mendatangi lingkungan kampus.
Berdasarkan laporan lapangan, aparat mendapat reaksi berupa lemparan batu.
Pendekatan persuasif dan negosiasi kemudian dilakukan untuk meminta massa menghentikan kegiatan serta menurunkan bendera bermotif Bintang Kejora. Namun, upaya penurunan bendera kembali diwarnai pelemparan batu.
Aparat kemudian melakukan tindakan pengendalian massa dengan menggunakan gas air mata dan water cannon untuk membubarkan konsentrasi massa.
Kericuhan selanjutnya meluas ke luar kampus. Massa dilaporkan membakar lapak pinang di sekitar depan Alfamidi Padang Bulan dan melakukan pemalangan Jalan Raya Waena-Abepura. Kondisi tersebut sempat menyebabkan arus lalu lintas terhenti.
Baca Juga: TNI AD Siapkan 1.095 Pemuda Terbaik Maluku untuk jadi Prajurit
Personel Korem 172/PWY kemudian membantu pemadaman api, sementara aparat keamanan melakukan pengamanan di sejumlah titik.
Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Tri Purwanto meminta masyarakat tidak memperkeruh keadaan dengan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
“Kami mengimbau seluruh masyarakat, khususnya civitas akademika dan generasi muda, untuk tetap tenang, tidak mudah terprovokasi serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi,” kata Tri.
Ia menegaskan setiap penyampaian aspirasi perlu dilakukan dengan tetap memperhatikan ketertiban umum, keselamatan masyarakat dan ketentuan hukum.
Kodam XVII/Cenderawasih, lanjut Tri, akan terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan pihak terkait guna menjaga keamanan kawasan.
Baca Juga: Kodam Tuanku Imam Bonjol Terima Kendaraan Dinas: Mobil Maung dan Motor CRF
Di sisi lain, ia mengajak tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, pihak perguruan tinggi dan orang tua ikut mengambil peran dalam menciptakan ruang dialog bagi generasi muda.
“Keamanan dan ketertiban merupakan tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Tri juga mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap informasi yang beredar di media sosial, terutama informasi yang tidak jelas sumber maupun kebenarannya.
Pascamassa membubarkan diri, kondisi Jalan Raya Waena-Abepura berangsur kembali normal. Hingga sore hari, aparat masih melakukan pengamanan di sekitar Gapura USTJ dan kawasan tersebut dilaporkan kondusif.
Kodam Cenderawasih berharap situasi keamanan yang terjaga dapat mendukung keberlangsungan kegiatan akademik, kehidupan sosial dan pembangunan di Tanah Papua.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































