Sisi Lain Mayjen Kristomei Sianturi, Hobi Lari dan Ingin Sekolah Teknik Penerbangan

Jakarta, IDM – Di balik kesibukannya sebagai Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen TNI Kristomei Sianturi ternyata selalu menyempatkan diri untuk berolahraga lari.
Ditemui redaksi Indonesia Defense Magazine, di kantornya Mabes Cilangkap, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu, pria murah senyum ini mengaku menghabiskan jarak 5-6 kilometer untuk berlari dalam sehari.
"Bahkan kalau weekend saya bisa lari panjang, 10-15 kilometer," kata Kristomei.
Menurut pria yang lahir 49 tahun yang lalu ini, lari adalah olahraga yang paling murah. Modal yang diperlukan hanya niat.
"Fase yang terberat itu pada saat pakai sepatu, bagaimana mengumpulkan niat. Tapi kalau sudah mulai melangkah dan ketemu ritmenya apalagi sambil mendengarkan musik, sudah tinggal lari saja," kata Kristomei yang memastikan tidak pernah menentukan jadwalnya berlari, kadang pagi, siang bahkan malam.
Baca Juga: Bantu Polisi, TNI Ikut Kejar dan Ungkap Kasus Pengeroyokan Prajurit TNI AL di Malang
Bagi Kristomei olahraga lari juga menjadi sarana pelatihan mental terutama kesabaran. Pelari akan melawan dirinya sendiri, mau berhenti atau berlari hingga finish.
"Belajar melatih diri sendiri, atur ritmenya, kapan harus pelan berlari, percepat, pokoknya intinya bisa melawan diri sendiri," kata Kristomei.
Mencintai Pekerjaan
Kristomei mengaku selalu mencintai semua tugas yang diberikan kepadanya, termasuk jabatannya saat ini sebagai Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI.
Sejak 14 Maret 2025 Kristomei mengemban amanat tersebut. Berurusan dengan penulisan rilis dan media bukanlah hal baru buatnya. Sebelumnya ia pernah menjabat Kepala Penerangan Kodam Jaya (Kapendam Jaya) periode 2017-2019, dan Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) periode 2023-2024.
"Kalau kita mencintai pekerjaan tersebut tidak ada yang berat. Kita punya passion. Jadi kalau itu adalah pekerjaan mudah tapi kalau tidak disenangi ya berat," katanya.
Kristomei bahkan mengaku tetap menikmati pekerjaan ini walaupun sekarang sedang mengambil program pendidikan sarjana strata tiga.
"Ya saya nikmati, waktu terasa cepat tanpa disadari tiba-tiba sudah jam pulang kantor, jadi benar-benar diatur waktunya kapan menjawab, menulis rilis dan mengerjakan tugas dosen," lanjut Kristomei.
Baca Juga: Diplomasi Global di Bawah Bayang-bayang “Kehancuran Bersama”Akibat Perang Nuklir (Bagian II)
Lebih Menyukai Teknik Tapi Terdampar Menjadi Prajurit
"Saya itu awalnya tidak bercita-cita jadi TNI, tapi lebih teknik," kata Kristomei saat ditanya cerita awal masuk TNI.
Kristomei merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1997 dari kecabangan Infanteri.
Menurutnya latar belakang keluarganya tak ada satupun dari militer. Ayahnya seorang wiraswasta dan ibunya adalah seorang guru. Dirinya bahkan sempat dilarang jadi tentara, karena ia anak laki-laki satu-satunya, penerus marga dalam keluarganya yang bersuku Batak.
"Saya memang menyukai teknik, saya menghabiskan pendidikan dari Taman Kanak-kanak (TK) hingga SMP di Lampung, kemudian melanjutkan pendidikan SMA di Bandung dan berencana kuliah di ITB," kata Kristomei.
Namun dalam perjalanannya, Kristomei tidak jadi bersekolah di Bandung, karena keburu diterima di SMA Taruna Nusantara di Magelang.
"Saya ambil lagi itu Nilai Ebtanas Murni (NEM) di SMA di Bandung berangkat ke Magelang," kenang Kristomei.
Di awal masuk SMA Taruna, Kristomei ditanya keinginannya, hendak ke mana pascapendidikan. Ia mengaku hendak masuk ITB mengambil jurusan teknik penerbangan.
Baca Juga: Prajurit Marinir Raih Penghargaan di Lebanon, Terlibat Pelatihan Penanggulangan Ranjau
"Kenapa tidak mau masuk Akabri (sebutan TNI di masa itu)?" tanya pewawancara, seperti ditirukan Kristomei.
"Siap! Saya tidak suka ABRI," jawab Kristomei saat itu.
"Dari awal sudah dipisahkan sebenarnya sesuai wawancara, mana yang nanti masuk ranah sipil dan mana yang masuk militer. Porsi olahraga juga dibedakan dari senam, lari. Dalam perjalanannya kami juga sering diajak berkeliling ke Akmil, AAU, dan AAL. Melihat kegiatan di akademi tersebut saya luluh. Wah, enak juga ini sekolah sepertinya," kata Kristomei.
Di akhir masa pendidikan di SMA, Kristomei memutuskan untuk mendaftarkan diri ke semua jenjang pendidikan lewat jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dari Akabri hingga Sekolah Tinggi Akuntansi Nasional (STAN).
"Alhamdulillah saya diterima semuanya, namun nasib berkata lain, saya terlanjur tes pantukhir (pemantauan akhir) di Akmil dan diterima. Ini tentu sudah menjadi tanggung jawab untuk memilih pendidikan ini, saya ikuti," kata Kristomei. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































