HANKAM

Simulasi Angkat Black Box, Prajurit TNI AL Jajal Teknologi Penyelaman Modern di Korsel

Prajurit TNI AL
Prajurit TNI AL mencoba simulator penyelaman berteknologi virtual reality (VR) yang dipandu oleh personel ROK Navy saat ajang DIVEX 2026 di Korea Selatan. (Foto: Dok. TNI AL)

Jakarta, IDM – Prajurit Komando Penyelam dan Penyelamatan Bawah Air (Koppeba) bersama Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL mematangkan keahlian pencarian dan evakuasi di dasar laut Korea Selatan. Dalam ajang latihan bersama (Latma) DIVEX 2026, tim khusus ini menggelar simulasi pengangkatan kotak hitam (black box) serta pencarian objek berat di perairan Jinhae.

Dikutip dari keterangan Dispenal, Senin (31/8), skenario evakuasi darurat tersebut menjadi materi inti dalam simulasi lapangan atau Field Tactical Exercise. Penyelam TNI AL mengasah ketangkasan penyelamatan bawah laut untuk mendukung penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan atau Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR).

Baca Juga: Perkuat Operasi Bawah Air, TNI AL Kirim 12 Prajurit Penyelam Elite ke Korsel

Saat menjalankan simulasi tersebut, personel TNI AL menguji coba serangkaian teknologi militer mutakhir. Tim mengoperasikan alat pemindai tiga dimensi (side scan 3D sonar) untuk melacak posisi objek, lalu menerjunkan robot pengamat bawah air (remote operated vehicle/ROV) demi memastikan sasaran secara visual.

Prajurit TNI AL
Penyelam TNI AL mengenakan helm penyelaman komersial (helm dive) untuk persiapan simulasi operasi evakuasi dan pencarian objek di dasar laut. (Foto: Dok. TNI AL)

Selain menerjunkan robot pencari, para prajurit menguji teknik penyelaman dalam menggunakan kubah penyelam (wet-bell diving). Tim juga mensimulasikan evakuasi darurat dari udara lewat teknik penyelamatan dari helikopter (helicopter rescue swimming) serta mengangkat beban berat dari dasar laut memakai kantong pengapung (lifting bag).

Materi latihan teknis ini melengkapi fokus diplomasi maritim yang sebelumnya diberitakan. Pada kesempatan tersebut, TNI AL mengerahkan 12 prajurit penyelam elite yang terdiri dari 10 personel Koppeba dan 2 anggota Kopaska, di bawah pimpinan Komandan Satuan Tugas Letkol Laut (S) Mz Lerry.

Baca Juga: Pesawat TNI AU Angkut 729 Ton Bantuan untuk Penanganan Gempa NTT dalam 15 Hari

Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Laut Laksma TNI Baroyo Eko Basuki memantau langsung pengoperasian alat-alat canggih tersebut di lokasi latihan. Baroyo menegaskan penguasaan teknologi penyelaman modern ini sangat krusial bagi prajurit TNI AL.

"Latihan ini merupakan platform strategis untuk berbagi pengalaman dan mengadopsi teknik penyelaman militer modern. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan kesiapan dan profesionalisme kedua angkatan laut dalam menjaga stabilitas keamanan maritim di kawasan," kata Baroyo.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.