Sekolah Penerbang: Menapaki Jalan Menuju Kokpit

Jakarta, IDM – Langit tidak membedakan siapa yang berhak menggapainya. Kesempatan terbuka bagi siapapun yang siap dan mampu menghadapi setiap tantangan. Tidak peduli laki-laki atau perempuan, mereka menapaki proses dan memiliki hak yang sama. Letda Tek Qorinna menjadi bukti nyata bahwa perempuan juga dapat ditempa dengan standar yang setara untuk menjadi seorang penerbang TNI Angkatan Udara yang andal dan profesional.
Ditemui saat kegiatan Press Tour Media Dirgantara 2026 beberapa waktu lalu, Qorinna berkisah bagaimanaawal mula ketertarikannya menapaki dunia militer. Perempuan asal Jakarta itu mengaku terinspirasi oleh sosok ibunda, seorang Wanita TNI Angkatan Udara (Wara) yang saat ini masih aktif berdinas. Selain itu, tumbuh dalam lingkungan keluarga militer membentuk karakter disiplin, tanggung jawab, dan pengabdian menjadi begitu lekat dalam diri Qorinna sejak usia dini.
“Itu yang memotivasi saya, bahwa perempuan juga bisa untuk menjadi tentara. Dan ibu saya saat ini korpsnya POMAU (Polisi Militer Angkatan Udara). Jadi, sebagai seorang anak, tentunya ingin mencapai sesuatu yang lebih dari orang tua kami,” tutur Qorinna.
Baca Juga: Wingdik 100/Terbang: Titik Awal Perjalanan dan Pengabdian Elang Muda TNI Angkatan Udara
Garis takdir kemudian membawanya menjadi salah satu siswa Sekolah Penerbang (Sekbang) Angkatan ke-106 di Wingdik 100/Terbang. Perjalanan tersebut diawali saat dirinya menempuh pendidikan sebagai Taruna Akademi Angkatan Udara (AAU). Selanjutnya, ia diarahkan untuk menjadi seorang penerbang setelah melalui serangkaian tes yang tidak mudah, mulai dari tes jasmani, akademis, hingga kesehatan.
Selain itu, Qorinna juga harus menjalani tes psikologi dan aptitude test untuk menguji sejauh mana minat dan bakat terbang yang ia miliki, serta apakah ia cocok untuk menjadi seorang “Dan penerbang TNI AU saat ini di
Indonesia juga jumlahnya masih terbatas. Jadi, kami termotivasi, tidak hanya laki-laki yang bisa menerbangkan pesawat, perempuan juga bisa untuk menerbangkan pesawat. Perempuan juga bisa untuk menerbangkan pesawat apabila dilatih dengan baik dan benar,” ujar Qorinna.penerbang TNI Angkatan Udara.

Tantangan dan Motivasi
Qorinna saat ini tengah menjalani fase bina terbang di Skadron Pendidikan (Skadik) 101 Lanud Adisutjipto, Yogyakarta. Di tempat ini, semua calon penerbang TNI Angkatan Udara dilatih dengan mengawaki pesawat latih dasar, Grob G120TP. Untuk menapaki jejak karier menuju kokpit memang butuh disiplin tinggi dan latihan yang konsisten. Bagi Qorinna, tantangan terbesar selama menjalani latihan dalam mengawaki pesawat bukan semata soal teknik terbang, melainkan menjaga kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai kemungkinan kondisi darurat.
“Tidak hanya mempelajari prosedur-prosedur normal, namun kami juga harus mempelajari prosedur-prosedur emergency (kedaruratan). Contohnya, pesawat harus selalu dalam kondisi normal, namun, apabila nanti, di atas (langit) masuk awan atau tiba-tiba menemukan cuaca yang kurang baik, kami harus bisa mengatasi itu sendiri,” jelas dia.
Di sisi lain, selama menjalani beragam rangkaian kegiatan pendidikan, Qorinna merasakan bahwa siswa perempuan dan laki-laki memperoleh kesempatan serta tuntutan tugas yang sama. Pada awalnya, ia sempat diliputi keraguan, apakah dirinya mampu bertahan di lingkungan pendidikan yang didominasi oleh laki-laki. Namun, seiring perjalanan, keraguan itu perlahan terjawab. Proses pendidikan yang setara justru semakin memantapkan langkahnya untuk terus menapaki jenjang karier sebagai penerbang militer.
Baca Juga: Mata Senyap di Ujung Cakrawala: Mengupas Kekuatan Baru Puspenerbal Skuadron 700
Bagi Qorinna, gender bukanlah pembatas, melainkan sumber motivasi untuk membuktikan kemampuan diri. Di Sekolah Penerbang Angkatan ke-106, ia pun tidak sendiri. Seorang Wara lainnya, Letda Tek Salma, juga tengah menempuh pendidikan yang sama dan saat ini tengah menjalani fase bina terbang dengan materi latihan navigasi di Lanud Iswahjudi, Magetan, Jawa Timur.
Sebagai informasi, tahap latihan navigasi bertujuan untuk melatih kemampuan perencanaan penerbangan, ketepatan navigasi, pengambilan keputusan di udara, sekaligus membentuk kesiapan mental serta profesionalisme sebagai calon penerbang TNI AU.
“Awalnya kami (berpikir), bisa atau tidak ya. Ternyata, begitu dijalani, kami bisa menyesuaikan dengan laki-laki. Tanpa adanya diskriminasi atau hal-hal yang bikin overthinking, semua hal bisa dijalani di sini,” pungkas Qorinna.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































