Sejarawan UGM Bongkar Sejarah 75 Tahun Penyelam TNI AL dari Arsip Belanda

Jakarta, IDM – Dosen Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM) Satrio Dwicahyo, membongkar rekam jejak panjang satuan penyelam TNI AL periode 1950 hingga 2025. Ia melacak berbagai dokumen sejarah hingga ke Perpustakaan Universitas Leiden dan Arsip Nasional Belanda di Den Haag.
Penelitian ini melahirkan naskah buku bertajuk "Wicak Wirèng Warih: Penyelam TNI-AL dalam Arus Sejarah Selam Indonesia". Frasa Wicak Wirèng Warih merupakan motto penyelam TNI AL yang berarti "bijaksana dan berani di air". Naskah ini diserahkan langsung kepada Panglima Koarmada RI Laksamana Madya TNI Denih Hendrata, saat syukuran Hari Jadi Penyelam TNI AL ke-74 pada Rabu (26/8).
Satrio menjadi satu-satunya akademisi sipil yang masuk dalam tim riset bentukan Komandan Komando Penyelam dan Penyelamatan Bawah Air (Koppeba) Koarmada RI Laksamana Pertama TNI Liber Sihombing. Bersama tim, ia mengumpulkan sumber sejarah primer dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Jakarta sebelum menelusuri arsip di Eropa.
Baca Juga: Pangdivif 2 Kostrad: Jangan Jadikan TNI untuk Kejar Gaya Hidup, tetapi Jalan Pengabdian
Proses penulisan sejarah ini memiliki tantangan tersendiri karena adanya perubahan nama organisasi dan dinamika satuan dari masa ke masa. Satrio menilai sejarah angkatan laut perlu dilihat dari sudut pandang yang lebih luas.
"Sejarah yang hanya fokus pada pertempuran relatif tidak dapat menangkap kompleksitas masa lalu, bahkan cenderung seperti film Hollywood. Pembaca sering disuguhkan narasi ketika kapal perang beraksi, tetapi tidak banyak yang tahu bahwa sejarah angkatan laut lebih luas daripada topik tersebut," ujar Satrio seperti dikutip dari keterangan resmi UGM, Jumat (28/8).
Ia menambahkan, kemampuan penyelaman dan penyelamatan bawah air membuat peran satuan ini selalu relevan, baik dalam kondisi perang maupun damai.
Baca Juga: Marinir TNI AL dan AS Uji Taktik Tempur Kota di Lampung
Berkat riset tersebut, Komandan Koppeba Koarmada RI menganugerahkan brevet kehormatan "Wicak Wirèng Warih" atau "Lumba-lumba Perkasa" kepada Satrio. Penyerahan brevet berlambang dua lumba-lumba berhadapan ini diwakilkan oleh Wakil Komandan Koppeba Kolonel Laut (T) Kuswahyudi, di Markas Koppeba Koarmada RI, Jakarta. Penghargaan ini tergolong istimewa karena brevet tersebut umumnya hanya didapat prajurit yang lulus pendidikan militer tujuh bulan di Sekolah Selam TNI AL Surabaya.
Satrio mengikuti perayaan tersebut secara daring dari Belanda karena sedang menempuh studi doktoral di Universitas Leiden.
"Saya memahami betapa berharganya sebuah brevet bagi seorang prajurit. Saya menerima penghargaan ini dengan segala kerendahan hati," tutur Satrio.
"Penghargaan terbesar bagi saya adalah dapat turut menyusun literatur sejarah dengan target pembaca kalangan profesional, seperti rekan-rekan penyelam TNI AL," pungkasnya.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































