Sejarah Dibentuknya Koopssus TNI yang Hari Ini Berusia Enam Tahun

Jakarta, IDM – Satuan elite Komando Operasi Khusus atau Koopssus TNI hari ini genap berusia enamtahun, Rabu (30/7).
Koopssus merupakan pasukan khusus gabungan dari pasukan elite tiga matra, yakni Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD, Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) TNI AL, dan Komando Pasukan Gerak (Kopasgat) TNI AU.
Koopssus dibentuk setelah terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 42 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Perpres Nomor 10 Tahun 2010 tentang susunan organisasi TNI.
Dalam perpres tersebut menyebutkan bahwa tugas dari Koopssus TNI adalah menyelenggarakan operasi khusus dan kegiatan untuk mendukung pelaksanaan operasi yang membutuhkan kecepatan dan keberhasilan tinggi guna menyelamatkan kepentingan nasional, di dalam maupun luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Baca Juga: Satgas Gabungan TNI Tewaskan Dua Anggota OPM dan Sita Dokumen Aliran Dana
Dikutip dari berbagai sumber, Koopssus dibentuk karena TNI melihat ancaman semakin kompleks. Oleh karena itu, TNI membutuhkan satuan yang memiliki interoperabilitas tinggi dan kemampuan tri matra (AD, AL, dan AU).
"Sebagai satuan elite, personel Koopssus TNI yang berasal dari pasukan khusus ketiga matra merupakan prajurit-prajurit pilihan," ujar Marsekal (Purn) Hadi Tjahjanto sewaktu menjabat Panglima TNI meresmikan Koopssus di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, 30 Juli 2019.
Koopssus TNI membawahi operasi pasukan khusus tiga matra. Namun, dalam operasinya sesuai dengan tugas masing masing matra.
Salah satu tugas Koopssus adalah mengatasi aksi terorisme, baik dalam maupun luar negeri yang mengancam ideologi kedaulatan, keutuhan, dan keselamatan segenap bangsa Indonesia.
Baca Juga: Dandim 0506/Tgr Tegaskan Komitmen Antikorupsi Lewat Deklarasi SMAP

Di bawah komando Panglima TNI
Kedudukan Koopssus yang personelnya mengenakan baret merah, merupakan bagian
dari Badan Pelaksana Pusat (Balakpus) yang secara struktural komando langsung di bawah Panglima TNI.
Sewaktu-waktu, Koopssus bisa digunakan oleh Panglima TNI atas perintah Presiden RI.
Berbagai operasi dilakukan Koopssus, seperti saat mereka diberi tugas operasi pembebasan pilot Susi Air, Philips Mark Methrtens, yang disandera Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Baca Juga: KSAU Tegaskan Lima Prioritas TNI AU, Modernisasi Alpalhankam hingga Validasi Organisasi
“Siapkan segala sesuatunya, misalnya bila Panglima TNI atau Presiden perintahkan untuk bebaskan sandera, dipikirkan dari sekarang. Untuk itu, Dankoopssus TNI berkoordinasi yang baik kepada satuan-satuan khusus yang ada di matra,” ujar Letjen (Purn) Bambang Ismawan sewaktu masih menjadi Kepala Staf Umum (Kasum) TNI berpesan ke Koopssus, 15 Agustus 2023.
Terbaru, Koopssus TNI berpartisipasi dalam Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Trisula Wyvern bersama pasukan khusus Australia, Spesial Operation Command (Socom) Australia Defence Force (ADF), pada 2 sampai 12 Juli 2025.
Koopssus juga mengikuti Latgabma Talisman Sabre 2025 pada 13-24 Juli, yakni latihan terbesar dua tahunan yang diselenggarakan oleh militer Australia dan Amerika Serikat dengan mangundang militer 13 negara lain, termasuk Indonesia. (nma)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































